10.
(orang-orang kafir) berkata: “Apakah Sesungguhnya Kami benar-benar dikembalikan
kepada kehidupan semula*?
11. Apakah (akan dibangkitkan
juga) apabila Kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?”
12. mereka berkata: “Kalau
demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”.
(an-Naazi’aat: 10-12)
* Setelah orang-orang kafir
mendengar adanya hari kebangkitan sesudah mati mereka merasa heran dan mengejek
sebab menurut keyakinan mereka tidak ada hari kebangkitan itu. Itulah sebabnya
mereka bertanya demikian itu.
Diriwayatkan oleh Sa’id bin
Manshur yang bersumber dari Muhammad bin Ka’ab bahwa ketika turun Firman
Alla a innaa la marduuduuna fil haafiroh (…. Apakah sesungguhnya
kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula ?) (an-Naazi’aat:
10) sebagai keterangan kepada Rasulullah, dan terdengar oleh kaum kafir
Quraisy, mereka berkata: “Kalau kita dihidupkan kembali sesudah mati, tentu
kita akan rugi.” Maka turunlah ayat berikutnya (an-Naazi’aat: 12) sebagai
keterangan dari Allah kepada Rasul-Nya tentang ucapan kaum kafir Quraisy itu.
42. (orang-orang kafir)
bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?**
43. siapakah kamu (maka) dapat
menyebutkan (waktunya)?
44. kepada Tuhanmulah
dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).
45. kamu hanyalah pemberi
peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)
46. pada hari mereka melihat
hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia)
melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari**.
(an-Naazi’aat: 42-46)
** Kata-kata ini
mereka ucapkan adalah sebagai ejekan saja, bukan karena mereka percaya
akan hari berbangkit.
*** Karena hebatnya suasana hari
berbangkit itu mereka merasa bahwa hidup di dunia adalah sebentar saja.
Diriwayatkan oleh al-Hakim dan
Ibnu Jarir, yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa ayat-ayat ini (an-Naazi’aat:
42-44) turun sebagai penegasan bahwa hanya Allah yang mengetahui waktunya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim
dari Juwaibir, dari adl-Dlahhak, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum
musyrikin Mekah bertanya dengan sinis kepada Rasulullah saw: “Kapan terjadinya
kiamat?” Allah menurunkan ayat-ayat ini (an-Naazi’aat: 42-46) yang
menegaskan bahwa hanya Allah Yang Maha Mengetahui waktunya.
Diriwayatkan oleh ath-Thabarani
dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari Thariq bin Syihab. Diriwayatkan pula oleh
Ibnu Abi Hatim yang bersumber dar ‘Urwah bahwa Rasulullah saw sering
menyebut-nyebut kiamat. Maka turunlah ayat-ayat ini (an-Naazi’aat: 43-44)
sebagai perintah untuk menyerahkan persoalannya kepada Allah swt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar