Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Insyiqaaq (Terbelah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 84: 25
Surah Makkiyyah; Surah ke 84: 25
“16. Maka Sesungguhnya aku bersumpah dengan cahaya
merah di waktu senja, 17. dan dengan malam dan apa yang diselubunginya, 18. dan
dengan bulan apabila Jadi purnama, 19. Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi
tingkat (dalam kehidupan), 20. mengapa mereka tidak mau beriman? 21. dan
apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, 22. bahkan
orang-orang kafir itu mendustakan(nya). 23. Padahal Allah mengetahui apa yang
mereka sembunyikan (dalam hati mereka). 24. Maka beri kabar gembiralah mereka
dengan azab yang pedih, 25. tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh,
bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (al-Insyiqaaq: 16-25)
Kata asy-Syafaq berarti ufuk yang berwarna merah,
baik sebelum terbitnya matahari, sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid,
maupun setelah terbenamnya matahari, sebagaimana yang dikenal di kalangan para
ahli bahasa. Dan dalam kitab shahih Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Rasulullah
saw. beliau bersabda: “Waktu maghrib adalah selama syafaq belum terbenam.”
Firman Allah: Wal laili wa maa wasaq. (“Dan dengan
malam dan apa yang diselubunginya.”) yakni dikumpulkan. Mengenai firman-Nya
ini, ‘Ikrimah mengatakan: “Suatu kegelapan yang digiring apabila malam telah
tiba dan segala sesuatu pergi ke tempatnya.”
Firman Allah: wal qamari idzat tasaq (“Dan dengan
bulan apabila jadi purnama.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Jika telah berkumpul dan
menempati posisi yang sama.” Demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah, Muhahid,
dan Sa’id bin Jubair. Makna ungkapan mereka itu adalah jika cahaya itu sudah
sempurna dan menjadi purnama menuju kepada malam dan apa yang diseretnya.
Firman Allah: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq
(“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat [dalam kehidupan].”) Imam
Bukhari meriwayatkan dari Muhahid, dia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan:
latarkabunna thabaqan ‘an thabaq (“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi
tingkat [dalam kehidupan].”) yaitu dari satu keadaan ke keadaan yang lain.” Dia
mengatakan: “Inilah nabi kalian.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari
dengan lafazh tersebut. Dan hal itu mengandung kemungkinan bahwa Ibnu ‘Abbas
menyandarkan penafsiran tersebut dari Nabi saw. seakan-akan dia berkata: “Aku pernah
mendengar hal itu dari Nabi kalian.” Dengan demikian ucapannya: “Nabiyyukum
[nabi kalian].” Dengan menggunakan harakat dlmammah dalam posisi sebagai fa’il
(subyek) dari kata qaala, dan itulah yang lebih jelas. Wallahu a’lam.
Dan mungkin juga mengandung pengertian bahwa yang
dimaksud dengan firman-Nya: Firman Allah: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq
(“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat [dalam kehidupan].”) adalah
suatu keadaan ke keadaan yang lain. Dia mengatakan: “Dan itulah yang dimaksud dengan
ungkapan, “Inilah Nabi kalian saw.” sehingga berkedudukan marfu’ (menggunakan
harakat dlammah), dengan pengertian bahwa kata Haadzaa dan Nabiyyukum
berkedudukan sebagai mubatada’ dan khabar. wallaaHu a’lam.
Hal ini diperkuat oleh qira-at ‘Umar, Ibnu Mas’ud,
Ibnu ‘Abbas serta penduduk Makkah dan Kufah secara keseluruhan: litarkabanna,
yaitu dengan menggunakan harakat fathah pada huruf ta dan ba.
Firman Allah: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq
(“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat [dalam kehidupan].”) Ibnu ‘Abi
Hatim meriwayatkan dari asy-Sya’bi, dia mengatakan: “Engkau akan naik, hai
Muhammad, langit demi langit.” Demikian itu yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud,
Masruq, dan Abul ‘Aliyah; thabaqan ‘an thabaq; yang berarti langit demi langit.
Aku bertanya: “Apakah yang mereka maksudkan itu
malam isra’ Mir’raj?” As-Suddi sendiri mengatakan: latarkabunna thabaqan ‘an
thabaq (“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat.”) amal perbuatan
orang-orang sebelum kalian, satu kedudukan kepada kedudukan yang lain,
seolah-olah dia menghendaki pengertian haditst shahih: “Sesungguhnya kalian
akan menjalankan sunnah-sunnah orang-orang sebelum kalian sedikit demi sedikit,
bahkan meski mereka masuk ke liang biawak sekalipun pasti kalian akan
memasukinya.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah mereka itu
orang-orang Yahudi atau Nasrani?” Beliau menjawab: “Kalau bukan mereka siapa
lagi?” dan itu masih mengandung beberapa kemungkinan.
Firman Allah: fa maa laHum laa yu’minuun. Wa idzaa
quri-a ‘alaiHimul qur-aanu laa yasjuduun (“Mengapa mereka tidak mau beriman?
Dan apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.”)
maksudnya apa yang menghalangi mereka untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
dan hari akhir? Dan mengapa pula ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat dan
firman-firman Allah, yang ia tidak lain adalah al-Qur’an ini, tidak mau
bersujud untuk memberikan pengagungan dan penghormatan.
Firman Allah: baliladziina kafaruu yukadzdzibuun
(“Bahkan orang-orang kafir itu mendustakan[nya].”) yakni di antara watak mereka
adalah mendustakan, membangkang, dan menolak kebenaran. wallaaHu a’lamu bimaa
yuu-‘uun (“Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan [dalam hati
mereka].”) fabasysyirHum bi-‘adzaabin aliim (“Maka berilah kabar gembira kepada
mereka dengan adzab yang pedih.”) yakni beritahukanlah hai Muhammad, kepada
mereka bahwa Allah telah menyiapkan bagi mereka adzab yang sangat pedih.
Firman Allah: illalladziina
aamanuu wa ‘amilush shaalihati (“Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal
shalih.”) yang demikian itu merupakan bentuk pengecualian terputus [istisna’
mungqathi’] artinya, tetapi orang-orang yang beriman, yaitu dengan sepenuh
hatinya dan beramal shalih, yaitu dengan angggota tubuhnya, laHum ajrun (“bagi
mereka pahala.”) yakni di alam akhirat, ghairu mamnuun (“yang tidak
putus-putusnya.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni, tidak dikurangi.” Sedangkan
Mujahid dan adl-dlahhak mengatakan: “Yaitu tidak terhitung.” Dan perpaduan
antara kedua pendapat itu bahwa pahala itu tidak putus-putusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar