1.
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh,
2. dari kejahatan makhluk-Nya,
3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada
buhul-buhul*,
5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”
(Al-Falaq: 1-5)
*Biasanya tukang-tukang
sihir dalam melakukan sihirnya membikin buhul-buhul dari tali lalu membacakan
jampi-jampi dengan menghembus-hembuskan nafasnya ke buhul tersebut.
1.
Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai)
manusia.
2. raja manusia.
3. sembahan manusia.
4. dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
6. dari (golongan) jin dan manusia.
(An-Naas: 1-6)
Diriwayatkan oleh
al-Baihaqi di dalam kitab Dalaa-ilun Nubuwwah, dari al-Kalbi, dari Abu Shalih,
yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah SAW pernah mengalami sakit
parah. Maka datanglah kepada beliau dua malaikat, yang satu duduk sebelah
kepala beliau dan satu lagi duduk sebelah kaki beliau. Berkatalah malaikat yang
duduk di sebelah kaki beliau kepada malaikat yang duduk di sebelah kepala
beliau: “Apa yang engkau lihat ?” Ia menjawab, “Beliau terkena guna-guna.” Ia
bertanya lagi, “Apa guna-guna itu ?” Ia menjawab, “Guna-guna itu sihir.” Ia
bertanya lagi, “Siapa yang membuat sihirnya ?” Ia menjawab, “Labid bin al-Asham
al-Yahudi, yang sihirnya merupakan gulungan yang disimpan di dalam sumur
keluarga si fulan di bawah sebuah batu besar. Datanglah ke sumur itu, timbalah
airnya dan angkatlah batunya, kemudian amblillah gulungannya dan bakarlah.”
Pada pagi harinya
Rasulullah SAW mengutus ‘Ammar bin Yasir dan kawan-kawannya. Setibanya di sumur
itu, tampaklah airnya merah seperti air pacar. Air itu ditimbanya, diangkat
batunya, serta dikeluarkan gulungannya serta gulungannya dibakar. Ternyata di
dalam gulungan itu ada tali yang terdiri atas sebelas simpul. Kedua surat ini
(al-Falaq dan an-Naas) diturunkan berkenaan dengan hal tersebut. Setia kali
Rasulullah mengucapkan satu ayat, terbukalah simpulnya.
Dalam kitab Shahihul
Bukhari terdapat syaaHid (penguat) yang ceritanya seperti itu, tapi tidak
menyebutkan sebab turunnya kedua surat itu. Namun dalam riwayat lain ada syaHid
(penguat) yang ceritanya seperti itu juga dan menyebutkan sebab turunnya kedua
surat itu.
Diriwayatkan oleh Abu
Nu’aim di dalam Kitab ad-Dalaa-il, dari Ja’far ar-Razi, dari Ar-Rabi’bin Anas,
yang bersumber dari Anas bin Malik bahwa kaum Yahudi membuatkan makanan untuk
Rasulullah saw. Setelah memakan makanan itu, tiba-tiba Rasulullah sakit keras,
sehingga sahabat-sahabatnya mengira bahwa penyakit itu timbale akibat perbuatan
Yahudi itu. Maka turunlah Jibril membawa dua surat ini. Seketika itu juga
Rasulullah keluar menemui shahabat-shahabatnya dalam keadaan sehat wal-afiat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar