Sabtu, 13 Juni 2015

Asbaz dan Tafsir SILAT Surat AL-Buruj

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Buruuj (Gugusan Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 85: 22 ayat
Firman Allah: innalladziina fatanul mu’miniina wal mu’minaati (“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.”) yakni dengan membakar mereka. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, dan Ibnu Abza. Tsumma lam yatuubu (“kemudian mereka tidak bertaubat.”) yakni tidak melepaskan diri dari apa yang telah mereka lakukan dan tidak pula menyesalinya. falaHum ‘adzaabu jaHannama wa laHum ‘adzaabul hariiq (“Maka bagi mereka adzab jahanam dan bagi mereka adzab (neraka) yang membakar.”) yang demikian itu karena balasan itu sesuai dengan amal perbuatan. Al-Hasan al-Bashri mengungkapkan: “Lihatlah pada kemurahan dan kedermawanan ini. Mereka telah membunuh para wali-Nya, tetapi Dia justru mengajak mereka untuk bertaubat dan memohon ampunan.”
“11. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Itulah keberuntungan yang besar. 12. Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. 13. Sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). 14. Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, 15. yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha mulia, 16. Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. 17. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, 18. (Yaitu kaum) Fir’aun dan (kaum) Tsamud? 19. Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, 20. Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. 21. bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, 22. yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (Al-Buruuj: 11-22)
Allah memberitahukan hamba-hamba-Nya yang beriman bahwa: laHum jannaatun tajrii min tahtiHal anHaaru (“Bagi mereka surge yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”) berbeda dengan apa yang disediakan bagi musuh-musuh-Nya yang berupa pembakaran dan neraka jahanam. Oleh karena itu, Dia berfirman: dzaalikal fauzul kabiir (“Itulah keberuntungan yang besar.”)
Kemudian Dia berfirman: inna bath-sya rabbika lasyadiid (“Sesungguhnya adzab RAbb-mu benar-benar keras.”) maksudnya, adzab dan siksa bagi musuh-musuh-Nya yang telah mendustakan para Rasul-Nya dan menyalahi perintah-Nya benar-benar sangat keras lagi dasyat dan kuat, karena sesungguhnya Allah mempunyai kekuatan yang sangat kuat, apa saja yang Dia kehendaki pasti akan terjadi sebagaimana yang Dia kehendaki dalam sekejap mata atau lebih cepat lagi. Oleh karena itu, Dia berfirman: innaHuu Huwa yubdi-u wa yu-‘iid (“Sesungguhnya Dia yang menciptakan [makhluk] dari permulaan dan menghidupkannya [kembali].”) yakni, dengan kekuatan dan kekuasaan-Nya yang sempurna Dia memulai penciptaan kemudian mengembalikannya lagi seperti sediakala tanpa ada yang menghalangi dan tidak juga mencegah. Wa Huwal gharuurul waduudu (“Dialah yang Mahapengampun lagi Mahapengasih.”) yakni mengampuni dosa orang yang bertaubat dan tunduk kepada-Nya, apapun dosanya. Sedangkan mengenai al-waduud, Ibnu ‘Abbas dan juga yang lainnya mengatakan: “Yaitu yang penuh cinta kasih.” Dzul ‘arsyi (“Yang mempunyai ‘Arsy”) yakni pemilik ‘Arsy yang agung lagi tinggi di atas semua makhluk. Sedangkan kata al-Majiid (Mahamulia), terdapat dua bacaan, yaitu dengan harakat dlammah dengan kedudukan sebagai sifat bagi rabb, dan yang kedua dengan menggunakan harakat kasrah dengan kedudukan sebagai sifat bagi ‘Arsy, namun demikian keduanya benar. Fa’-‘aalullimaa yuriid (“Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”) apapun yang hendak Dia lakukan pasti Dia lakukan, tidak ada yang menuntut balas terhadap hukum-Nya dan tidak juga ditanyakan mengenai apa yang diperbuat-Nya, karena keagungan, keperkasaan, kebijaksanaan, dan keadilan-Nya.
Firman-Nya: Hal ataaka hadiitsul junuudi fir’auna wa tsamuuda (“Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, [yaitu kaum] Fir’aun dan [kaum] Tsamud?”) artinya, apakah telah sampai kepadamu berita tentang adzab dan juga malapetaka yang telah menimpa mereka, yang tidak seorangpun sanggup mencegahnya? Yang demikian itu merupakan penegasan bagi firman Allah sebelumnya: inna bath-sya rabbika lasyadiid (“Sesungguhnya adzab RAbb-mu benar-benar keras.”) maksudnya, jika Dia menimpakan siksaan kepada orang dhalim, maka Dia akan mengadzabnya dengan adzab dari Rabb Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Firman-Nya: balilladziina kafaruu fii takdziib (“Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan.”) maksudnya mereka selalu dalam keraguan, kekufuran, dan pembangkangan. wallaaHu miw waraa-iHimmuhiith (“Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka.”) Yakni Dia berkuasa atas mereka, Mahaperkasa, tidak ada yang dapat lepas dari siksaan-Nya, serta tidak juga mereka dapat membuat-Nya lemah. Bal Huwa qur-aanum majiid (“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur’an yang mulia.”) yakni agung lagi mulia. Fii lauhim mahfuudh (“yang tersimpan di Lauhul Mahfudh.”) yakni al-mala-ul a’laa, terpelihara dari penambahan dan pengurangan, serta terjaga dari penyimpangan dan perubahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar