Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Buruuj (Gugusan Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 85: 22 ayat
Surah Makkiyyah; Surah ke 85: 22 ayat
Firman Allah: innalladziina fatanul mu’miniina wal
mu’minaati (“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada
orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.”) yakni dengan membakar mereka.
Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, dan
Ibnu Abza. Tsumma lam yatuubu (“kemudian mereka tidak bertaubat.”) yakni tidak
melepaskan diri dari apa yang telah mereka lakukan dan tidak pula menyesalinya.
falaHum ‘adzaabu jaHannama wa laHum ‘adzaabul hariiq (“Maka bagi mereka adzab
jahanam dan bagi mereka adzab (neraka) yang membakar.”) yang demikian itu
karena balasan itu sesuai dengan amal perbuatan. Al-Hasan al-Bashri mengungkapkan:
“Lihatlah pada kemurahan dan kedermawanan ini. Mereka telah membunuh para
wali-Nya, tetapi Dia justru mengajak mereka untuk bertaubat dan memohon
ampunan.”
“11. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai; Itulah keberuntungan yang besar. 12. Sesungguhnya azab Tuhanmu
benar-benar keras. 13. Sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan (makhluk) dari
permulaan dan menghidupkannya (kembali). 14. Dia-lah yang Maha Pengampun lagi
Maha Pengasih, 15. yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha mulia, 16. Maha Kuasa
berbuat apa yang dikehendaki-Nya. 17. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum
penentang, 18. (Yaitu kaum) Fir’aun dan (kaum) Tsamud? 19. Sesungguhnya
orang-orang kafir selalu mendustakan, 20. Padahal Allah mengepung mereka dari
belakang mereka. 21. bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang
mulia, 22. yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (Al-Buruuj: 11-22)
Allah memberitahukan hamba-hamba-Nya yang beriman
bahwa: laHum jannaatun tajrii min tahtiHal anHaaru (“Bagi mereka surge yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai.”) berbeda dengan apa yang disediakan bagi
musuh-musuh-Nya yang berupa pembakaran dan neraka jahanam. Oleh karena itu, Dia
berfirman: dzaalikal fauzul kabiir (“Itulah keberuntungan yang besar.”)
Kemudian Dia berfirman: inna bath-sya rabbika
lasyadiid (“Sesungguhnya adzab RAbb-mu benar-benar keras.”) maksudnya, adzab
dan siksa bagi musuh-musuh-Nya yang telah mendustakan para Rasul-Nya dan
menyalahi perintah-Nya benar-benar sangat keras lagi dasyat dan kuat, karena
sesungguhnya Allah mempunyai kekuatan yang sangat kuat, apa saja yang Dia
kehendaki pasti akan terjadi sebagaimana yang Dia kehendaki dalam sekejap mata
atau lebih cepat lagi. Oleh karena itu, Dia berfirman: innaHuu Huwa yubdi-u wa
yu-‘iid (“Sesungguhnya Dia yang menciptakan [makhluk] dari permulaan dan
menghidupkannya [kembali].”) yakni, dengan kekuatan dan kekuasaan-Nya yang
sempurna Dia memulai penciptaan kemudian mengembalikannya lagi seperti sediakala
tanpa ada yang menghalangi dan tidak juga mencegah. Wa Huwal gharuurul waduudu
(“Dialah yang Mahapengampun lagi Mahapengasih.”) yakni mengampuni dosa orang
yang bertaubat dan tunduk kepada-Nya, apapun dosanya. Sedangkan mengenai
al-waduud, Ibnu ‘Abbas dan juga yang lainnya mengatakan: “Yaitu yang penuh
cinta kasih.” Dzul ‘arsyi (“Yang mempunyai ‘Arsy”) yakni pemilik ‘Arsy yang
agung lagi tinggi di atas semua makhluk. Sedangkan kata al-Majiid (Mahamulia),
terdapat dua bacaan, yaitu dengan harakat dlammah dengan kedudukan sebagai
sifat bagi rabb, dan yang kedua dengan menggunakan harakat kasrah dengan
kedudukan sebagai sifat bagi ‘Arsy, namun demikian keduanya benar.
Fa’-‘aalullimaa yuriid (“Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”) apapun
yang hendak Dia lakukan pasti Dia lakukan, tidak ada yang menuntut balas
terhadap hukum-Nya dan tidak juga ditanyakan mengenai apa yang diperbuat-Nya,
karena keagungan, keperkasaan, kebijaksanaan, dan keadilan-Nya.
Firman-Nya: Hal ataaka hadiitsul junuudi fir’auna wa
tsamuuda (“Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, [yaitu kaum]
Fir’aun dan [kaum] Tsamud?”) artinya, apakah telah sampai kepadamu berita
tentang adzab dan juga malapetaka yang telah menimpa mereka, yang tidak
seorangpun sanggup mencegahnya? Yang demikian itu merupakan penegasan bagi
firman Allah sebelumnya: inna bath-sya rabbika lasyadiid (“Sesungguhnya adzab
RAbb-mu benar-benar keras.”) maksudnya, jika Dia menimpakan siksaan kepada
orang dhalim, maka Dia akan mengadzabnya dengan adzab dari Rabb Yang
Mahaperkasa lagi Mahakuasa.
Firman-Nya: balilladziina kafaruu fii takdziib
(“Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan.”) maksudnya mereka selalu
dalam keraguan, kekufuran, dan pembangkangan. wallaaHu miw waraa-iHimmuhiith
(“Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka.”) Yakni Dia berkuasa
atas mereka, Mahaperkasa, tidak ada yang dapat lepas dari siksaan-Nya, serta
tidak juga mereka dapat membuat-Nya lemah. Bal Huwa qur-aanum majiid (“Bahkan
yang didustakan mereka itu ialah al-Qur’an yang mulia.”) yakni agung lagi
mulia. Fii lauhim mahfuudh (“yang tersimpan di Lauhul Mahfudh.”) yakni
al-mala-ul a’laa, terpelihara dari penambahan dan pengurangan, serta terjaga
dari penyimpangan dan perubahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar