Tafsir Ibnu Katsir Surah
Al-Fiil (Gajah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 105:
5 ayat
Ibnu Hisyam mengatakan:
“Al-Ababil artinya kawanan, dan masyarakat Arab tidak menggunakan kata itu
dalam bentuk mufrad (tunggal). Sedangkan as-Sijjil, Yunus an-Nahwi dan Abu
‘Ubaidah memberitahuku bahwa menurut masyarakat Arab, kata itu berarti yang
sangat keras.” Dia mengatakan: “Beberapa orang ahli tafsir menyebutkan
bahwa keduanya berasal dari bahasa Persi yang oleh orang masyarakat
Arab dijadikan sebagai satu kata, di mana kata as-sanaj berarti batu
sedangkan al-jill berarti tanah liat.” Lebih lanjut ia mengatakan: “Dan batu
itu berasal dari kedua jenis tersebut, yaitu batu dan tanah liat.” Dia juga
mengatakan: “Kata al-‘Ashf berarti daun tanaman yang belum dipotong. Bentuk
mufradnya adalah ‘ashfah. Sampai di sini apa yang diucapkannya.
Hammad bin Salamah meriwayatkan
dari ‘Amir, dari Zurr, dari ‘Abdullah dan Abu Salamah bin ‘Abdirrahman,
“thairan abaabil”, dia mengatakan: “Yaitu beberapa kawanan burung.” Ibnu ‘Abbas
dan adl-Dlahhak mengatakan: “Ababil berarti sebagian mengikuti sebagian
lainnya.” Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah mengemukakan: “Ababil berarti sangat
banyak.” Mujahid mengatakan: “Ababil berarti sekumpulan yang saling mengikuti
dan berkumpul.” Sedangkan Ibnu Zaid mengatakan: “Al-ababil berarti yang
berbeda-beda, yang datang dari semua penjuru.” Al-Kisa-i menyebutkan: “Aku
pernah mendengar beberapa orang ahli nahwu mengatakan: ‘Bentuk tunggal dari
kata abaabil adalah ibiil.’”
Firman Allah Ta’ala: faja’alahum
ka’ashfim ma’kuul (“Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang
dimakan.”) Said bin Jubair mengatakan: “Yakni jerami yang kaum awam menyebutnya
dengan habur.” Dan dalam sebuah riwayat dari Sa’id, yaitu daun gandum. Dan dari
Ibnu ‘Abbas, al’ashf berarti kulit yang ada di atas biji, semacam penutup pada
biji gandum. Ibnu Zaid mengatakan: “Al-‘ashf berarti daun tanaman atau daun
koll jika dimakan oleh binatang, lalu dikotori sehingga jadi kotoran.” Artinya,
bahwa Allah Tbaaraka wa Ta’ala meninasakan, melenyapkan, dan mengembalikan
mereka dengan tipu daya dan kemarahan mereka. Dan mereka tidak mendapatkan
kebaikan sama sekali. Mereka dibinasakan secara keseluruhan dan tidak ada
seorangpun dari mereka kembali memberitahu melainkan dalam keadaan terluka,
sebagaimana yang dialami oleh raja mereka, Abrahah. Di antara yang
menggambarkan hal tersebut adalah syair ‘Abdullah bin az-Zab’ari berikut:
“Mereka mundur (menyingkir) dari
tengah kota Mekah, sesungguhnya kota Mekah itu kesuciannya tidak dapat diusik.
Pada malam-malam yang dijaga
tersebut bintang asy-Syi’ra tidak pernah muncul karena tidak ada seorang
manusiapun yang mampu menjamahnya.
Tanyakan kepada komandan pasukan
tentangnya, apa yang dia lihat, maka orang mengetahuinya akan memberitahukannya
kepada orang-orang yang tidak mengetahuinya.
Enampuluh ribu prajurit tidak
kembali ke negerinya, bahkan prajurit yang kembali dalam keadaan sakit akhirnya
meninggal dunia.
Dahulu pernah datang kesana
bangsa/kaum ‘Aad dan Jurhum sebelum mereka, namun Allah dari atas
hamba-hambanya selalu menegakkannya (menjaganya).”
Dan kami telah sampaikan pada
penafsiran surat al-Fath bahwasanya Rasulullah saw. Ketika beliau pada
saat terjadi peristiwa Hudaibiyah menuruni lembah, tiba-tiba unta beliau
terduduk. Kemudian mereka menghardiknya, tetapi unta itu tak bergeming. Lalu
mereka berkata, al-Qushwa’ duduk mengembik. Maka Rasulullah saw.
bersabda:
“Al-Qushwa’ tidak mengembik dan
itu bukan sifatnya. Tetapi dia telah dihalangi oleh apa yang menghalangi
gajah.” –kemudian beliau bersabda- “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya,
pada hari ini mereka tidak akan menuntut bagian dariku, yang padanya mereka
mengagungkan apa-apa yang ada di sisi Allah melainkan Dia menjadikan
mereka menyukainya.”
Kemudian beliau menghardik unta
itu dan berhasil berdiri. Hadits tersebut termasuk hadist yang diriwayatkan
oleh al-Bukhari sendiri. Dan dalam kitab ash-Shahihain disebutkan
bahwa Rasulullah saw. bersabda pada hari fathu Makah:
“Sesungguhnya Allah menahan
pasukan Gajah dari memasuki kota Mekah. Dan Dia menguasakan kota Mekah kepada
Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan sesungguhnya kehormatan kota Mekah
pada hari ini telah kembali seperti kehormatannya kemarin. Ingatlah,
hendaklah orang yang hadir memberitahu orang yang tidak hadir.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar