Sabtu, 13 Juni 2015

Asbaz dan Tafsir SILAT Surat AL-Fiil

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Fiil (Gajah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 105: 5 ayat
Ibnu Hisyam mengatakan: “Al-Ababil artinya kawanan, dan masyarakat Arab tidak menggunakan kata itu dalam bentuk mufrad (tunggal). Sedangkan as-Sijjil, Yunus an-Nahwi dan Abu ‘Ubaidah memberitahuku bahwa menurut masyarakat Arab, kata itu berarti yang sangat keras.” Dia mengatakan: “Beberapa orang ahli tafsir menyebutkan bahwa  keduanya berasal dari bahasa Persi yang oleh orang masyarakat Arab  dijadikan sebagai satu kata, di mana kata as-sanaj berarti batu sedangkan al-jill berarti tanah liat.” Lebih lanjut ia mengatakan: “Dan batu itu berasal dari kedua jenis tersebut, yaitu batu dan tanah liat.” Dia juga mengatakan: “Kata al-‘Ashf berarti daun tanaman yang belum dipotong. Bentuk mufradnya adalah ‘ashfah. Sampai di sini apa yang diucapkannya.
Hammad bin Salamah meriwayatkan dari ‘Amir, dari Zurr, dari ‘Abdullah dan Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, “thairan abaabil”, dia mengatakan: “Yaitu beberapa kawanan burung.” Ibnu ‘Abbas dan adl-Dlahhak mengatakan: “Ababil berarti sebagian mengikuti sebagian lainnya.” Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah mengemukakan: “Ababil berarti sangat banyak.” Mujahid mengatakan: “Ababil berarti sekumpulan yang saling mengikuti dan berkumpul.” Sedangkan Ibnu Zaid mengatakan: “Al-ababil berarti yang berbeda-beda, yang datang dari semua penjuru.” Al-Kisa-i menyebutkan: “Aku pernah mendengar beberapa orang ahli nahwu mengatakan: ‘Bentuk tunggal dari kata abaabil adalah ibiil.’”
Firman Allah Ta’ala: faja’alahum ka’ashfim ma’kuul (“Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan.”) Said bin Jubair mengatakan: “Yakni jerami yang kaum awam menyebutnya dengan habur.” Dan dalam sebuah riwayat dari Sa’id, yaitu daun gandum. Dan dari Ibnu ‘Abbas, al’ashf berarti kulit yang ada di atas biji, semacam penutup pada biji gandum. Ibnu Zaid mengatakan: “Al-‘ashf berarti daun tanaman atau daun koll jika dimakan oleh binatang, lalu dikotori sehingga jadi kotoran.” Artinya, bahwa Allah Tbaaraka wa Ta’ala meninasakan, melenyapkan, dan mengembalikan mereka dengan tipu daya dan kemarahan mereka. Dan mereka tidak mendapatkan kebaikan sama sekali. Mereka dibinasakan secara keseluruhan dan tidak ada seorangpun dari mereka kembali memberitahu melainkan dalam keadaan terluka, sebagaimana yang dialami oleh raja mereka, Abrahah. Di antara yang menggambarkan hal tersebut adalah syair ‘Abdullah bin az-Zab’ari berikut:
“Mereka mundur (menyingkir) dari tengah kota Mekah, sesungguhnya kota Mekah itu kesuciannya tidak dapat diusik.
Pada malam-malam yang dijaga tersebut bintang asy-Syi’ra tidak pernah muncul karena tidak ada seorang manusiapun yang mampu menjamahnya.
Tanyakan kepada komandan pasukan tentangnya, apa yang dia lihat, maka orang mengetahuinya akan memberitahukannya kepada orang-orang yang tidak mengetahuinya.
Enampuluh ribu prajurit tidak kembali ke negerinya, bahkan prajurit yang kembali dalam keadaan sakit akhirnya meninggal dunia.
Dahulu pernah datang kesana bangsa/kaum ‘Aad dan Jurhum sebelum mereka, namun Allah dari atas hamba-hambanya selalu menegakkannya (menjaganya).”
Dan kami telah sampaikan pada penafsiran surat al-Fath bahwasanya Rasulullah saw. Ketika beliau  pada saat terjadi peristiwa Hudaibiyah menuruni lembah, tiba-tiba unta beliau terduduk. Kemudian mereka menghardiknya, tetapi unta itu tak bergeming. Lalu  mereka berkata, al-Qushwa’ duduk mengembik. Maka Rasulullah saw. bersabda:
“Al-Qushwa’ tidak mengembik dan itu bukan sifatnya. Tetapi dia telah dihalangi oleh apa yang menghalangi gajah.” –kemudian beliau bersabda- “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, pada hari ini mereka tidak akan menuntut bagian dariku, yang padanya mereka mengagungkan apa-apa yang ada di sisi  Allah melainkan Dia menjadikan mereka menyukainya.”
Kemudian beliau menghardik unta itu dan berhasil berdiri. Hadits tersebut termasuk hadist yang diriwayatkan oleh  al-Bukhari sendiri. Dan dalam kitab  ash-Shahihain disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda pada hari fathu Makah:

“Sesungguhnya Allah menahan pasukan Gajah dari memasuki kota Mekah. Dan Dia menguasakan kota Mekah kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan sesungguhnya kehormatan kota Mekah pada hari ini  telah kembali seperti kehormatannya kemarin. Ingatlah, hendaklah orang yang hadir memberitahu orang yang tidak hadir.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar