1. Sesungguhnya Kami telah
memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka dirikanlah shalat
karena Tuhanmu; dan berkorbanlah*.
3. Sesungguhnya orang-orang
yang membenci kamu Dialah yang terputus**.
(al-Kautsar: 1-3)
*Yang dimaksud
berkorban di sini ialah menyembelih hewan Qurban dan mensyukuri nikmat Allah.
**Maksudnya terputus di sini
ialah terputus dari rahmat Allah.
Diriwayatkan oleh al-Bazzar dll,
dengan sanad yang sahih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Ka’b bin
al-Asyraf (tokoh yahudi) datang ke Mekah, kaum Quraisy berkata kepadanya; “Tuan
adalah pemimpin orang Madinah. Bagaimana pendapat tuan tentang si
pura-pura sabar yang diasingkan oleh kaumnya, yang menganggap dirinya lebih
mulia dari kami, padahal kami adalah penyambut orang-orang yang melaksanakan
haji, pemberi minumnya, serta penjaga Ka’bah ?” Ka’b berkata: “Kalian lebih
mulia daripada dia.” Maka turunlah ayat ini (al-Kautsar ayat 3) yang membantah
ucapan mereka.
Diriwayatkan oleh Ibn Abi
Syaibah di dalam KItab al-Mushannaf dari Ibnul Mundzir, yang bersumber dari
‘Ikrimah bahwa ketika Nabi Muhammad saw diberi wahyu, kaum Quraisy berkata:
“Terputuslah hubungan Muhammad dengan kita.” Maka turunlah ayat ini (al-Kautsar
ayat 3) sebagai bantahan terhadap ucapan mereka.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim
yang bersumber dari as-suddi. Juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam Kitab
ad-dalaa-il, yang bersumber dari Muhammad bin ‘Ali, dan disebutkan bahwa yang
meninggal itu ialah Qasim. Bahwa kaum Quraisy menganggap kematian anak
laki-laki itu berarti putus keturunan. Ketika putra Rasulullah saw meninggal,
al-‘Ashi bin Wa-il mengatakan bahwa keturunan Muhammad saw telah terputus. Maka
surat al-Kautsar ayat 3 ini turun sebagai bantahan terhadap ucapan mereka.
Diriwayatkan oleh al-Baihaqi
yang bersumber dari Mujahid bahwa ayat 3 ini turun berkenaan dengan al-‘Ashi
bin Wa-il yang berkata, “Aku membenci Muhammad.” Maka ayat ini turun
sebagai penegasan bahwa orang yang membenci Rasulullah akan terputus segala
kebaikannya.
Diriwayatkan oleh Aththabarani
dengan sanad yang dhaif, yang bersumber dari Ayyub bahwa ketika Ibrahim, putra
Rasulullah saw wafat, orang-orang musyrik berkata satu sama lain: “Orang murtad
itu (Muhammad) telah terputus keturunannya tadi malam.” Allah menurunkan surat
al-Kautsar ayat 1-3 ini yang membantah ucapan mereka.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir
yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa ayat ini (ayat 2) turun pada
peristiwa Hudaibiyah, ketika Jibril datang kepada rasulullah memerintahkan
kurban dan shalat. Rasulullah segera berdiri seraya menyampaikan khotbah Idul
Fitri-mungkin juga khotbah idul Adha (rawi ragu, apakah peristiwa di dalam
hadits itu terjadi pada bulan Ramadhan atau pada bulan Zulkaidah) kemudian
sholat dua rakaat. Sesudah itu beliau menuju ke tempat kurban, lalu memotong
hewan kurban.
Menurut as-Suyuthi, riwayat ini
sangat gharib. Matan hadits ini meragukan, karena menyebutkan sholat id
didahului khotbah.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir
yang bersumber dari Syamr bin ‘Athiyyah bahwa ‘Uqbah bin Abi Mu’aith berkata:
“Tidak ada seorang pun anak laki-laki Nabi Muhammad saw yang hidup hingga
keturunannya terputus.” Ayat ke 3 ini turun sebagai bantahan terhadap ucapan
itu.
Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari
Ibnu Juraij bahwa ketika Ibrahim putra Rasulullah saw wafat, kaum Quraisy
berkata, “Serkarang Muhammad menjadi abtar (terputus keturunannya).” Hal ini
menyebabkan Nabi Muhammad saw bersedih hati. Maka turunlah ayat ini (al-Kautsar
1-3) sebagai penghibur baginya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar