Sabtu, 13 Juni 2015

Asbaz SILAT Surat AN-Naba'

1. tentang Apakah mereka saling bertanya-tanya?
2. tentang berita yang besar*,
(An-Naba’ : 1-2)
* Yang dimaksud dengan berita yang besar ialah berita tentang hari berbangkit.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari al-Hasan bahwa ketika Nabi Muhammad saw diutus sebagai Rasul, orang-orang saling bertanya tentang berita yang dibawa Rasul (kiamat). Ayat ini (An-Naba’: 1-2) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Asbaz SILAT Surat An-Naaziaat

 10. (orang-orang kafir) berkata: “Apakah Sesungguhnya Kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula*?
11. Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila Kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?”
12. mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”.
(an-Naazi’aat: 10-12)
* Setelah orang-orang kafir mendengar adanya hari kebangkitan sesudah mati mereka merasa heran dan mengejek sebab menurut keyakinan mereka tidak ada hari kebangkitan itu. Itulah sebabnya mereka bertanya demikian itu.
Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur yang bersumber dari Muhammad bin Ka’ab bahwa ketika turun Firman Alla a innaa la marduuduuna fil haafiroh (…. Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula ?) (an-Naazi’aat: 10) sebagai keterangan kepada Rasulullah, dan terdengar oleh kaum kafir Quraisy, mereka berkata: “Kalau kita dihidupkan kembali sesudah mati, tentu kita akan rugi.” Maka turunlah ayat berikutnya (an-Naazi’aat: 12) sebagai keterangan dari Allah kepada Rasul-Nya tentang ucapan kaum kafir Quraisy itu.
42. (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?**
43. siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)?
44. kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).
45. kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)
46. pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari**.
(an-Naazi’aat: 42-46)
**   Kata-kata ini mereka ucapkan adalah sebagai ejekan saja, bukan karena mereka percaya  akan hari berbangkit.
*** Karena hebatnya suasana hari berbangkit itu mereka merasa bahwa hidup di dunia adalah sebentar saja.
Diriwayatkan oleh al-Hakim dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa ayat-ayat ini (an-Naazi’aat: 42-44) turun sebagai penegasan bahwa hanya Allah yang mengetahui waktunya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Juwaibir, dari adl-Dlahhak, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum musyrikin Mekah bertanya dengan sinis kepada Rasulullah saw: “Kapan terjadinya kiamat?” Allah menurunkan  ayat-ayat ini (an-Naazi’aat: 42-46) yang menegaskan bahwa hanya Allah Yang Maha Mengetahui waktunya.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari Thariq bin Syihab. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dar ‘Urwah bahwa Rasulullah saw sering menyebut-nyebut kiamat. Maka turunlah ayat-ayat ini (an-Naazi’aat: 43-44) sebagai perintah untuk menyerahkan persoalannya kepada Allah swt

Asbaz SILAT SUrat 'Abasa

1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
2. karena telah datang seorang buta kepadanya*.
3. tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
4. atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup*,
6. Maka kamu melayaninya.
7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman).
8. dan Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
9. sedang ia takut kepada (Allah),
10. Maka kamu mengabaikannya.
(‘Abasa: 1-10)
*     Orang buta itu bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Dia datang kepada Rasulullah s.a.w. meminta ajaran-ajaran tentang Islam; lalu Rasulullah s.a.w. bermuka masam dan berpaling daripadanya, karena beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah surat ini sebagi teguran kepada Rasulullah s.a.w.
**   Yaitu pembesar-pembesar Quraisy yang sedang dihadapi Rasulullah s.a.w. yang diharapkannya dapat masuk Islam.
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Abu Ya’la yang bersumber dari Anas bahwa Firman Allah. ‘Abasa wa tawallaa (Dia [Muhammad] bermuka masam dan berpaling0 turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum, seorang buta yang datang kepada Nabi Muhammad saw seraya berkata: “Berilah aku petunjuk yang Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah saw sedang menghadapi para embesar kaum musyrikin Quraisy. Beliau berpaling dari Ibnu Ummi Maktum dan tetap menghadapi pembesar-pembesar Quraisy. Ibnu Ummi Maktum berkata: “Apakah yang saya katakana ini mengganggu tuan ?” Rasulullah saw menjawab: “Tidak.” Ayat-ayat ini (‘Abasa: 1-10) turun sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah saw itu.
17. binasalah manusia; Alangkah Amat sangat kekafirannya?
(‘Abasa: 17)
Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat ini (‘Abasa:17) turun berkenaan dengan ‘Utbah bin Abi Lahab yang berkata: “Aku kufur kepada Rabb bintang.” Ayat ini menegaskan bahwa manusia akan celaka karena kekufurannya.

admin sangat jauh dari kesempurnaan. mohon koreksi dan masukannya..
klik pelajaran "tajwid" dan "fiqih"

Asbaz SILAT Surat At-Takwir

“ 28.(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.”
29. dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”
(At-Takwiir: 28)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Sulaiman bin Musa. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dari Baqiyyah bin ‘Amr bin Muhammad, dari Zaid bin Aslam, yang bersumber dari Abu Hurairah. Diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir dari Sulaiman bin al-Qasim bin Mukhaimarah bahwa ketika turun ayat li man syaa-a mingkum ay yastaqiim ([yaitu] bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus) (At-Takwiir: 28), Abu Jahal berkata: “Kalau demikian, kitalah yang menentukan, apakah mau lurus atau tidak.” Maka Allah menurunkan ayat berikutnya (At-Takwiir: 29) yang membantah anggapan itu, dan menegaskan bahwa Allah-lah yang menentukannya.

Asbaz SILAT Surat Al-Infithar

Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah.”
(Al-Infithoor: 6)

 Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ubay bin Khalaf yang mengingkari hari ba’ts(dibangkitkan dari kubur). Ayat ini merupakan teguran kepada orang yang tidak percaya kepada ketentuan Allah.

Asbaz SILAT Surat Al-Mutaffifin

1. kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang*,
2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,
3. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.
(Al-Mutoffifiin: 1-3)
* Yang dimaksud dengan orang-orang yang curang di sini ialah orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang.

Diriwayatkan oleh an-Nasa-I dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Ibny ‘Abbas bahwa ketika Rasulullah saw sampai ke Madinah, diketahui bahwa orang-orang Madinah termasuk orang-orang yang paling curang dalam menakar dan menimbang. Maka Allah menurunkan ayat-ayat ini sebagai ancaman kepada orang-orang yang curang dalam menimbang dan menakar. Setelah ayat-ayat tersebut turun, orang-orang Madinah menjadi orang-orang yang jujur dalam menimbang dan menakar.

Asbaz dan Tafsir SILAT Surat Al-Insyiqaaq

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Insyiqaaq (Terbelah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 84: 25
“16. Maka Sesungguhnya aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja, 17. dan dengan malam dan apa yang diselubunginya, 18. dan dengan bulan apabila Jadi purnama, 19. Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan), 20. mengapa mereka tidak mau beriman? 21. dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, 22. bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya). 23. Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). 24. Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih, 25. tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (al-Insyiqaaq: 16-25)
Kata asy-Syafaq berarti ufuk yang berwarna merah, baik sebelum terbitnya matahari, sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid, maupun setelah terbenamnya matahari, sebagaimana yang dikenal di kalangan para ahli bahasa. Dan dalam kitab shahih Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Waktu maghrib adalah selama syafaq belum terbenam.”
Firman Allah: Wal laili wa maa wasaq. (“Dan dengan malam dan apa yang diselubunginya.”) yakni dikumpulkan. Mengenai firman-Nya ini, ‘Ikrimah mengatakan: “Suatu kegelapan yang digiring apabila malam telah tiba dan segala sesuatu pergi ke tempatnya.”
Firman Allah: wal qamari idzat tasaq (“Dan dengan bulan apabila jadi purnama.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Jika telah berkumpul dan menempati posisi yang sama.” Demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah, Muhahid, dan Sa’id bin Jubair. Makna ungkapan mereka itu adalah jika cahaya itu sudah sempurna dan menjadi purnama menuju kepada malam dan apa yang diseretnya.
Firman Allah: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq (“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat [dalam kehidupan].”) Imam Bukhari meriwayatkan dari Muhahid, dia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq (“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat [dalam kehidupan].”) yaitu dari satu keadaan ke keadaan yang lain.” Dia mengatakan: “Inilah nabi kalian.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dengan lafazh tersebut. Dan hal itu mengandung kemungkinan bahwa Ibnu ‘Abbas menyandarkan penafsiran tersebut dari Nabi saw. seakan-akan dia berkata: “Aku pernah mendengar hal itu dari Nabi kalian.” Dengan demikian ucapannya: “Nabiyyukum [nabi kalian].” Dengan menggunakan harakat dlmammah dalam posisi sebagai fa’il (subyek) dari kata qaala, dan itulah yang lebih jelas. Wallahu a’lam.
Dan mungkin juga mengandung pengertian bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: Firman Allah: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq (“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat [dalam kehidupan].”) adalah suatu keadaan ke keadaan yang lain. Dia mengatakan: “Dan itulah yang dimaksud dengan ungkapan, “Inilah Nabi kalian saw.” sehingga berkedudukan marfu’ (menggunakan harakat dlammah), dengan pengertian bahwa kata Haadzaa dan Nabiyyukum berkedudukan sebagai mubatada’ dan khabar. wallaaHu a’lam.
Hal ini diperkuat oleh qira-at ‘Umar, Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas serta penduduk Makkah dan Kufah secara keseluruhan: litarkabanna, yaitu dengan menggunakan harakat fathah pada huruf ta dan ba.
Firman Allah: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq (“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat [dalam kehidupan].”) Ibnu ‘Abi Hatim meriwayatkan dari asy-Sya’bi, dia mengatakan: “Engkau akan naik, hai Muhammad, langit demi langit.” Demikian itu yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, Masruq, dan Abul ‘Aliyah; thabaqan ‘an thabaq; yang berarti langit demi langit.
Aku bertanya: “Apakah yang mereka maksudkan itu malam isra’ Mir’raj?” As-Suddi sendiri mengatakan: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq (“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat.”) amal perbuatan orang-orang sebelum kalian, satu kedudukan kepada kedudukan yang lain, seolah-olah dia menghendaki pengertian haditst shahih: “Sesungguhnya kalian akan menjalankan sunnah-sunnah orang-orang sebelum kalian sedikit demi sedikit, bahkan meski mereka masuk ke liang biawak sekalipun pasti kalian akan memasukinya.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi atau Nasrani?” Beliau menjawab: “Kalau bukan mereka siapa lagi?” dan itu masih mengandung beberapa kemungkinan.
Firman Allah: fa maa laHum laa yu’minuun. Wa idzaa quri-a ‘alaiHimul qur-aanu laa yasjuduun (“Mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.”) maksudnya apa yang menghalangi mereka untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan hari akhir? Dan mengapa pula ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat dan firman-firman Allah, yang ia tidak lain adalah al-Qur’an ini, tidak mau bersujud untuk memberikan pengagungan dan penghormatan.
Firman Allah: baliladziina kafaruu yukadzdzibuun (“Bahkan orang-orang kafir itu mendustakan[nya].”) yakni di antara watak mereka adalah mendustakan, membangkang, dan menolak kebenaran. wallaaHu a’lamu bimaa yuu-‘uun (“Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan [dalam hati mereka].”) fabasysyirHum bi-‘adzaabin aliim (“Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan adzab yang pedih.”) yakni beritahukanlah hai Muhammad, kepada mereka bahwa Allah telah menyiapkan bagi mereka adzab yang sangat pedih.
Firman Allah: illalladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihati (“Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal shalih.”) yang demikian itu merupakan bentuk pengecualian terputus [istisna’ mungqathi’] artinya, tetapi orang-orang yang beriman, yaitu dengan sepenuh hatinya dan beramal shalih, yaitu dengan angggota tubuhnya, laHum ajrun (“bagi mereka pahala.”) yakni di alam akhirat, ghairu mamnuun (“yang tidak putus-putusnya.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni, tidak dikurangi.” Sedangkan Mujahid dan adl-dlahhak mengatakan: “Yaitu tidak terhitung.” Dan perpaduan antara kedua pendapat itu bahwa pahala itu tidak putus-putusnya.

Asbaz dan Tafsir SILAT Surat AL-Buruj

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Buruuj (Gugusan Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 85: 22 ayat
Firman Allah: innalladziina fatanul mu’miniina wal mu’minaati (“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.”) yakni dengan membakar mereka. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, dan Ibnu Abza. Tsumma lam yatuubu (“kemudian mereka tidak bertaubat.”) yakni tidak melepaskan diri dari apa yang telah mereka lakukan dan tidak pula menyesalinya. falaHum ‘adzaabu jaHannama wa laHum ‘adzaabul hariiq (“Maka bagi mereka adzab jahanam dan bagi mereka adzab (neraka) yang membakar.”) yang demikian itu karena balasan itu sesuai dengan amal perbuatan. Al-Hasan al-Bashri mengungkapkan: “Lihatlah pada kemurahan dan kedermawanan ini. Mereka telah membunuh para wali-Nya, tetapi Dia justru mengajak mereka untuk bertaubat dan memohon ampunan.”
“11. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Itulah keberuntungan yang besar. 12. Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. 13. Sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). 14. Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, 15. yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha mulia, 16. Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. 17. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, 18. (Yaitu kaum) Fir’aun dan (kaum) Tsamud? 19. Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, 20. Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. 21. bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, 22. yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (Al-Buruuj: 11-22)
Allah memberitahukan hamba-hamba-Nya yang beriman bahwa: laHum jannaatun tajrii min tahtiHal anHaaru (“Bagi mereka surge yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”) berbeda dengan apa yang disediakan bagi musuh-musuh-Nya yang berupa pembakaran dan neraka jahanam. Oleh karena itu, Dia berfirman: dzaalikal fauzul kabiir (“Itulah keberuntungan yang besar.”)
Kemudian Dia berfirman: inna bath-sya rabbika lasyadiid (“Sesungguhnya adzab RAbb-mu benar-benar keras.”) maksudnya, adzab dan siksa bagi musuh-musuh-Nya yang telah mendustakan para Rasul-Nya dan menyalahi perintah-Nya benar-benar sangat keras lagi dasyat dan kuat, karena sesungguhnya Allah mempunyai kekuatan yang sangat kuat, apa saja yang Dia kehendaki pasti akan terjadi sebagaimana yang Dia kehendaki dalam sekejap mata atau lebih cepat lagi. Oleh karena itu, Dia berfirman: innaHuu Huwa yubdi-u wa yu-‘iid (“Sesungguhnya Dia yang menciptakan [makhluk] dari permulaan dan menghidupkannya [kembali].”) yakni, dengan kekuatan dan kekuasaan-Nya yang sempurna Dia memulai penciptaan kemudian mengembalikannya lagi seperti sediakala tanpa ada yang menghalangi dan tidak juga mencegah. Wa Huwal gharuurul waduudu (“Dialah yang Mahapengampun lagi Mahapengasih.”) yakni mengampuni dosa orang yang bertaubat dan tunduk kepada-Nya, apapun dosanya. Sedangkan mengenai al-waduud, Ibnu ‘Abbas dan juga yang lainnya mengatakan: “Yaitu yang penuh cinta kasih.” Dzul ‘arsyi (“Yang mempunyai ‘Arsy”) yakni pemilik ‘Arsy yang agung lagi tinggi di atas semua makhluk. Sedangkan kata al-Majiid (Mahamulia), terdapat dua bacaan, yaitu dengan harakat dlammah dengan kedudukan sebagai sifat bagi rabb, dan yang kedua dengan menggunakan harakat kasrah dengan kedudukan sebagai sifat bagi ‘Arsy, namun demikian keduanya benar. Fa’-‘aalullimaa yuriid (“Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”) apapun yang hendak Dia lakukan pasti Dia lakukan, tidak ada yang menuntut balas terhadap hukum-Nya dan tidak juga ditanyakan mengenai apa yang diperbuat-Nya, karena keagungan, keperkasaan, kebijaksanaan, dan keadilan-Nya.
Firman-Nya: Hal ataaka hadiitsul junuudi fir’auna wa tsamuuda (“Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, [yaitu kaum] Fir’aun dan [kaum] Tsamud?”) artinya, apakah telah sampai kepadamu berita tentang adzab dan juga malapetaka yang telah menimpa mereka, yang tidak seorangpun sanggup mencegahnya? Yang demikian itu merupakan penegasan bagi firman Allah sebelumnya: inna bath-sya rabbika lasyadiid (“Sesungguhnya adzab RAbb-mu benar-benar keras.”) maksudnya, jika Dia menimpakan siksaan kepada orang dhalim, maka Dia akan mengadzabnya dengan adzab dari Rabb Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Firman-Nya: balilladziina kafaruu fii takdziib (“Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan.”) maksudnya mereka selalu dalam keraguan, kekufuran, dan pembangkangan. wallaaHu miw waraa-iHimmuhiith (“Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka.”) Yakni Dia berkuasa atas mereka, Mahaperkasa, tidak ada yang dapat lepas dari siksaan-Nya, serta tidak juga mereka dapat membuat-Nya lemah. Bal Huwa qur-aanum majiid (“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur’an yang mulia.”) yakni agung lagi mulia. Fii lauhim mahfuudh (“yang tersimpan di Lauhul Mahfudh.”) yakni al-mala-ul a’laa, terpelihara dari penambahan dan pengurangan, serta terjaga dari penyimpangan dan perubahan.

Asbaz SILAT Surat At-Thariq

“ Maka hendaklah manusia  memperhatikan  dari apakah dia diciptakan” (Ath-Thooriq:5)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abul Asad yang berdiri di atas kulit yang sudah disamak, sambil berkata dengan sombong: “Hai golongan Quraisy, barang siapa yang bisa memindahkan aku dari kulit ini, akan aku beri hadiah.” Selanjutnya ia berkata, “Muhammad menganggap bahwa pintu jahanam itu berjumlah Sembilan belas. Aku sendiri sanggup mewakili kalian mengalahkan yang sepuluh, dan kalian mengalahkan yang Sembilan lagi.” Ayat ini turun sebagai sindiran  terhadap perbuatan mereka.

Asbaz SILAT Surat Al-A'la

 Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa,
(al-A’laa: 6)

Diriwayatkan ole hath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Di dalam sanadnya terdapat Juwaibir, perawi yang sangat daif, bahwa apabila Jibril datang membawa wahyu kepada Nabi saw, beliau suka mengulang kembali wahyu itu sebelum Jibril selesai menyampaikannya, karena takut lupa lagi. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-A’laa: 6) sebagai jaminan bahwa Rasul tidak akan lupa pada wahyu yang telah diturunkan.

Asbaz SILAT Surat Al-Ghasyiyah

17. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan,
(al-Ghasyiyah: 17)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Qatadah bahwa ketika Allah melukiskan cirri-ciri syurga, kaum-kaum yang sesat merasa heran. Maka Allah menurunkan ayat ini  (al-Ghasyiyah: 17) sebagai perintah untuk memikirkan keluhuran dan keajaiban ciptaan Allah.

Asbaz SILAT Surat Al-Fajr

27. Hai jiwa yang tenang. (al-Fajr: 27)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Buradah bahwa firman Allah surat al Fajr: 27 turun berkenaan dengan Hamzah (yang gugur sebagai syahid)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Juwaibir, dari adl-Dlahak, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi saw bersabda: “Siapa yang akan membeli sumur Rumat untuk melepaskan dahaga. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosanya.” Sumur itupun dibeli oleh Utsman. Nabi saw bersabda: “Apakah engkau rela sumur itu dijadikan sumber minum bagi semua orang?” Utsman mengiyakannya. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Fajr: 27) berkenaan dengan Utsman.

Asbaz dan Tafsir SILAT Surat Al-Balad

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Balad (Negeri)
Surah Makkiyyah; Surah ke 90: 20 ayat

“1. aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah), 2. dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini, 3. dan demi bapak dan anaknya. 4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. 5. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya? 6. dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”. 7. Apakah Dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya? 8. Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, 9. lidah dan dua buah bibir. 10. dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (al-Balad: 1-10)
Yang demikian itu merupakan sumpah dari Allah dengan kota Makkah, Ummul Qura pada saat penghuni di sana dihalalkan, untuk mengingatkan akan keagungan dan kemuliaannya pada saat penduduknya berikhram. Dari Mujahid, Khushaif mengataka: “laa uqsimu biHaadzal baladi (“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini [Makkah].”) tidak ada penolakan atas mereka.  Aku bersumpah dengan negeri ini. Syabib bin Bisyir mengatakan dari ‘Ikrimah  dan Ibnu ‘Abbas: “laa uqsimu biHaadzal baladi (“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini [Makkah].”) yakni kota Makkah ini.” Dia berkata: “Hai Muhammad, diperbolehkan bagimu untuk berperang di dalamnya.” Demikian juga yang diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Abu Shalih, ‘Athiyah, adl-Dlahhak, Qatadah, as-Suddi, dan Ibnu Zaid.  Mujahid mengatakan: “Apa yang engkau dapatkan di dalamnya maka ia halal bagimu.” Al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Allah menghalalkannya  untuk beliau sesaat di waktu  siang hari.” Dan inilah makna yang mereka katakan. Dan hal itu juga telah  disebutkan oleh hadits yang keshahihannya telah disepakati:
“Sesungguhnya negeri ini telah diharamkan [disucikan] oleh Allah pada saat Dia menciptakan langit dan bumi. Dan negeri tersebut tetap dalam keadaan haram [suci] dengan keharamannya [kesuciaannya]  yang telah ditetapkan oleh Allah sampai hari kiamat kelak.  Pepohonannya tidak boleh ditebang, tanamannya yang masih hidup tidak boleh dicabut. Dan sesungguhnya pernah dihalalkan bagiku [berperang di sana] sesaat pada siang hari. Dan pada hari ini pengharamannya telah berlaku lagi, sebagaimana diharamkannya kemarin. Ketahuilah, hendaklah orang yang hadir hari ini menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.”
Dalam lafazh lain disebutkan: “Jika ada seseorang yang merasa diberi keringanan karena peperangan yang pernah dilakukan Rasulullah, maka  katakanlah: ‘Sesungguhnya Allah mengizinkan bagi Rasul-Nya dan tidak mengizinkan bagi kalian.’”
Firman Allah: wa waadidiw wa maa walada (“Dan demi bapak dan anaknya,”) Mujahid, Abu Shalih, Qatadah, adl-Dlahhak, Sufyan ats-Tsauri, Sa’id bin Jubair, as-Suddi, al-Hasan al-Bashri, Khushaif, Syarhabil bin Sa’ad dan lain-lainnya mengatakan: “Yang dimaksud dengan bapak di sini adalah Adam sedang anaknya adalah anak Adam.” Dan apa yang menjadi pendapat Mujahid dan para shahabatnya inilah yang paling kuat, karena Allah Ta’ala bersumpah dengan Ummul Qura, yaitu tempat-tempat yang didiami. Dia bersumpah dengan orang yang mendiaminya, yaitu Adam, bapak ummat manusia dan semua anaknya. Ibnu Jarir memilih berpendapat bahwa hal itu bersifat umum yang mencakup  setiap orang tua dan anaknya. Dan pendapat inipun mengandung kemungkinan.
Firman Allah: laqad khalaqnal ingsaana fii kabadin (“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada di dalam susah payah.”) Sa’id bin Jubair berkata tentang “fii kabad”: yakni dalam kesusahan dan pencarian kehidupan.” Ibnu Jarir memilih berpendat bahwa yang dimaksud adalah berbagai urusan yang sulit lagi payah.
Firman-Nya: a yahsabu allay yaqdira ‘alaiHi ahad (“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-sekali tidak ada seorangpun yang berkuasa atasnya?”) al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Yakni mengambil hartanya.” Mengenai firman-Nya ini Qatadah mengatakan: “Anak Adam mengira bahwa mereka tidak akan ditanya tentang harta tersebut, darimana dia memperolehnya dan kemana dia menyalurkannya.” Mengenai firmannya ini as-Suddi mengatakan: “Allah berfirman.”
Firman-Nya: yaquulu aHlaktu maalan (“Dia mengatakan: ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak.’”) artinya anak Adam mengatakan: “Aku telah membelanjakan harta yang cukup banyak.”) demikian yang dikemukakan oleh Muhahid, al-Hasan, Qatadah, as-Suddi dan lain-lain. A yahsabu allam yaraHuu ahad (“Apakah dia menyangka bahwa  tidak ada seorangpun yang melihatnya.” Mujahid mengatakan: “Yakni, apakah  dia mengira Allah tidak melihatnya?” demikian juga perkataan ulama salaf lainnya.

Firman-Nya: a lam naj’al laHuu ‘ainaiin (“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.”) yakni melihat dengan keduanya. Wa lisaanan (“Dan lidah”) yakni dengannya dia bicara  sehingga ia dapat mengungkapkan apa yang ada di dalam hati kecilnya. Wa syafataiin (“Dan dua buah bibir.”) dengan kedua bibir itu dia meminta bantuan untuk dapat berbicara, memakan makanan, sekaligus untuk memperindah wajah dan mulutnya. Wa HadainaaHun najdaiin (“Dan Kami telah  menunjukkan kepadanya dua jalan”) yakni dua jalan. Sufyan ats-Tsauri  berkata dari ‘Abdullah, yakni bin Mas’ud tentang ayat ini dia mengatakan: “Kebaikan dan keburukan.” Demikian yang diriwayatkan oleh ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Abu  Wa-il, Abu Shalih, Muhammad bin Ka’ab, adl-Dlahhak, ‘Atha’ al-Khurasani. Dan perbandingan ayat ini adalah firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat.  Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (al-Insaan: 2-3)

Asbaz dan Tafsir Surat As-Syams

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syams (Matahari)
Surah Makkiyyah; Surah ke 91: 15 ayat

“1. demi matahari dan cahayanya di pagi hari, 2. dan bulan apabila mengiringinya, 3. dan siang apabila menampakkannya, 4. dan malam apabila menutupinya, 5. dan langit serta pembinaannya, 6. dan bumi serta penghamparannya, 7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), 8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. 9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 10. dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 1-10)
Mujahid mengatakan: bahwa, wasy syamsi wa dluhaaHaa (“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.”) yakni sinarnya. Sedangkan Qatadah mengatakan: wadluhaaHaa (“Pada pagi hari”) yakni siang secara keseluruhan. Ibu Jarir mengatakan bahwa yang benar adalah dengan mengatakan: “Allah bersumpah dengan matahari dan siangnya, karena sinar matahari yang paling tampak jelas adalah pada siang hari.” Wal qamari idzaa tallaaHaa (“Dan bulan apabila mengiringinya.”) Mujahid mengatakan: “Yakni mengikutinya.” Sedangkan Qatadah mengatakan: “Yakni jika mengikutinya pada malam bulan purnama, jika matahari tenggelam maka rembulan akan muncul. Ibnu Zaid mengatakan: “Bulan mengikutinya pada pertengahan pertama pertama setiap bulan. Kemudian matahari mengikutinya, dimana bulan mendahuluinya pada pertengahan terakhir setiap bulan.”
Firman-Nya: wan naHaari idzaa jallaaHaa (“Dan siang apabila menampakkannya”) Mujahid mengatakan: “Bersinar”. Sedangkan Qatadah mengatakan: wan naHaari idzaa jallaaHaa (“Dan siang apabila menampakkannya”) jika diliputi oleh siang.” Ibnu Jarir mengtakan: “Sebagian penduduk Arab menafsirkan hal tersebut dengan pengertian: ‘Jika siang menyelimuti gelap,’ karena dalalah pembicaraan mengarah kesana. Dapa saya katakana, jika orang yang mengatakan itu menafsirkan: wan naHaari idzaa jallaaHaa (“Dan siang apabila menampakkannya”) dengan pengertian bentangan, maka akan lebih baik dan akan benar pula penafsirannya terhadap firman Allah: wal laili idzaa yaghsyaa (“Dan malam apabila menutupinya.”) niscaya akan lebih baik dan akurat. wallaaHu a’lam. Oleh karena itu mengenai firman-Nya: wan naHaari idzaa jallaaHaa (“Dan siang apabila menampakkannya”) Mujahid mengatakan: “Yang demikian itu sama seperti firman Allah: wan naHaari idzaa tajallaa (“Dan siang apabila terang benderang.”)
Sedangkan ibnu Jarir lebih memilih untuk mengembalikan dlamir (kata ganti) dalam semuanya itu kepada matahari, karena arus penyebutannya. Dan mengenai firman Allah: wal laili idzaa yaghsyaa (“Dan malam apabila menutupinya.”) mereka mengatakan: “Yakni jika malam menutupi matahari, yaitu saat matahari terbenam sehingga seluruh ufuk menjadi gelap.
Firman Allah: was samaa-i wamaa banaaHaa (“Dan langit serta pembinaannya.”) kata “maa” dalam ayat ini mencakup kemungkinan sebagai mashdar dengan pengertian, “Dan langit dan pembangunannya.” Yang demikian itu merupakan pendapat Qatadah. Dan mungkin juga kata “maa” tersebut berarti “man”(siapa), dengan pengertian: “Langit yang membangunnya.”. dan yang terakhir ini merupakan pendapat Mujahid. Kedua pengertian tersebut saling berhubungan. Dengan kata al-binaa’ berarti peninggian. Demikian pula firman Allah: wal ardli wamaa thahaaHaa (“Dan bumi serta penghamparannya.”) Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, as-Suddi, ats-Tsauri, Abu Shalih dan Ibnu  Zaid mengatakan: thahaaHaa berarti menghamparkannya.” Dan itulah yang paling populer. Pengertian itu pula yang diberikan oleh mayoritas ahli tafsir dan yang dikenal oleh para ahli bahasa.
Firman Allah: Wa nafsiw wamaa sawwaaHaa (“Dan jiwa serta penyempurnaannya.”) yakni penciptaan yang sempurna lagi tegak pada fitrah yang lurus. Sedangkan firman-Nya: fa alHamaHaa fujuuraHaa wa taqwaaHaa (“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu [jalan] kefasikan dan ketakwaan.”) yakni  Dia mengarahkan kepada kekejian dan ketakwaan. Artinya, Dia menjelaskan kepadanya seraya menunjukkan apa yang ditakdirkan untuknya.
Mengenai firman-Nya: fa alHamaHaa fujuuraHaa wa taqwaaHaa (“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu [jalan] kefasikan dan ketakwaan.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Dia menjelaskan yang baik dan yang buruk kepadanya.” Demikian pula yang disampaikan oleh Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, dan ats-Tsauri. Ibnu Jarir menceritakan dari Abul Aswad ad-Daili, dia berkata: ‘Imran bin al-Husain pernah berkata kepadaku, “Tahukah engkau apa yang dikerjakan  dan diupayakan oleh umat manusia di sana maka akan diberi keputusan kepada mereka dan diberlakukan pula ketetapan bagi mereka, baik ketetapan yang telah berlalu maupun yang akan mereka terima dari apa yang dibawa oleh Nabi mereka, Muhammad saw.  dan ditegaskan pula hujjah bagi mereka?” Aku katakan: “Tetapi ada sesuatu yang telah ditetapkan bagi mereka.” Dia bertanya: “Apakah yang demikian itu berupa kedzaliman?” –Dia berkata, maka aku benar-benar terkejut mendengarnya. Dia berkata, lalu aku katakan kepadanya: “Tidak ada sesuatupun melainkan Dia yang menciptakan  dan menguasainya, dia tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang Dia kerjakan  tetapi mereka akan dimintai tanggung jawab.” Dia berkata: “Mudah-mudahan Allah meluruskanmu, sesungguhnya aku bertanya kepadamu  hanya untuk menguji akalmu bahwasannya ada seseorang dari Muzinah atau Juhainah datang kepada Rasulullah saw. seraya bertanya: “Wahai Rasulallah, bagaimana menurut pendapatmu tentang apa yang dikerjakan dan diusahakan umat manusia di sana, adakah sesuatu yang ditetapkan atas mereka dan berlaku bagi mereka ketetapan yang telah lebih dulu ataukan sesuatu yang mereka terima dari apa yang dibawa oleh Nabi mereka, serta ditegaskan hujjah atas mereka?” Beliau menjawab: “Tetapi sesuatu sudah ditetapkan atas mereka.”  Orang itu bertanya: “Lalu untuk apa salah satu  dari kedua kedua kedudukan yang disediakan untuknya. Dan yang membenarkan hal tersebut terdapat di dalam kitabullah: wa nafsiw wamaa sawwaaHaa fa alHamaHaa fujuuraHaa wa taqwaaHaa (“Dan jiwa  serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu [jalan] kefasikan dan ketakwaan.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim.
Firman Allah: qad aflaha mangzakkaaHaa. Wa qad khaaba man dassaaHaa (“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”) Ada kemungkinan hal itu berarti beruntunglah orang yang mensucikan dirinya, yakni dengan menaati Allah, sebagaimana yang dikemukakan oleh Qatadah, dan membersihkannya dari aklak tercela dan berbagai hal yang hina. Hal senada juga diriwayatkan dari Mujahid, ‘Ikrimah, dan Sa’id bin Jubair. Dan seperti firman-Nya: qad aflaha man tazakkaa. Wa dzakaras marabbiHii fashallaa (“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri [dengan beriman], dan dia ingat Nama Rabb-nya, lalu dia shalat.”) (al-A’laa: 14-15)
Wa qad khaaba man dassaaHaa (“Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”) yakni mengotorinya, dengan membawa dan meletakkannya pada posisi menghinakan dan menjauhkan dari petunjuk sehingga dia  berbuat maksiat dan meninggalkan ketaatan kepada Allah. Dan mungkin juga mempunyai pengertian; beruntunglah orang yang disucikan jiwanya oleh Allah dan merugilah orang-orang yang jiwanya dibuat kotor oleh-Nya. Sebagaimana yang disampaikan oleh al-‘Aufi dan ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Zaid bin Argam, dia berkata: “Rasulullah saw. telah bersabda: ‘Ya Alla, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan juga ketuaan, pengecut, kikir dan adzab kubur. Ya Allah, berikanlah ketakwaan pada jiwaku dan sucikanlah, sesungguhnya Engkau sebaik-baik Rabb yang menyucikan, Engkau pelindung sekaligus Penguasanya. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung  kepada-Mu dari hati yang tidak pernah khusyu’ dan dari jiwa yang tidak pernah merasa puas, dan juga ilmu yang tidak bermanfaat serta doa yang tidak dikabulkan.” Zaid berkata: “Rasulullah saw. pernah mengajarkan doa itu kepada kami dan kamipun mempelajarinya.” Diriwayatkan oleh Muslim.
“11. (kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, 12. ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, 13. lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya”. 14. lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, Maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), 15. dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” (asy-Syams: 11-15)
Allah mengabarkan tentang kisah kaum Tsamud, dimana mereka mendustakan Rasul-rasul mereka yang disebabkan karena kesewenang-wenangan  dan melampaui batas dalam diri mereka. Oleh karena itu Allah menimpakan kedustaan dalam diri mereka terhadap petunjuk dan keyakinan yang dibawa oleh rasul mereka.
Idzim ba’atsa asyqaaHaa (“Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.”) yakni kabilah yang paling celaka, yaitu Qadar bin Salif yang telah membunuh unta, yang tidak lain dia adalah Uhaimar Tsamud. Dialah yang pernah difirmankan Allah: fanaadaw shaahibaHum fata’aathaa fa’aqara (“Kemudian mereka memanggil kawan mereka, lalu diapun datang lalu menyembelihnya.”) dan ayat seterusnya. (al-Qamar: 29). Orang ini sangat mulia dan dihormati oleh kaumnya sekaligus sebagai pemimpin yang ditaati. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari ‘Abdullah bin Zam’ah, dia berkata: “Rasulullah saw. pernah berkhutbah, lalu beliau menyinggung masalah unta (unta Nabi Shalih)  dan menyebutkan orang yang menyembelihnya, dimana beliau bersabda: ‘Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka. Bangkitlah seorang yang besar, yang paling disegani di tengah-tengah kaumnya, seperti Abu Zam’ah.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam kitab at-Tafsiir dan juga Muslim di dalam kitab Shifatun Naar. Juga at-Tirmidzi dan an-Nasa-i dalam kitab at-Tafsir pada kitab Sunan keduanya.
Firman Allah: faqaala laHum rasuulullaaHi (“Lalu Rasul Allah berkata kepada mereka”) yakni Nabi Shalih. NaaqatallaaHi (“Unta betina Allah.”) maksudnya, jauhkan diri kalian dari unta Allah dan janganlah kalian mengganggunya, wa suqyaaHaa (“Dan minumannya.”) maksudnya, janganlah kalian berlebihan dalam meminumnya, karena ia mempunyai jatah minum satu hari dan kalianpun mempunyai jatah minum satu hari tertentu. Allah berfirman: fakadzdzabuuHu fa’aqaruuHaa (“lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu”) yaitu mereka mendustakan apa yang dibawa oleh Rasul kepada mereka, sehingga sikap mereka itu dibalas dengan hukuman berupa penyembelihan unta betina yang dikeluarkan oleh Allah dari bebatuan sebagai tanda kekuasaan bagi mereka sekaligus sebagai hujjah atas mereka.
Fadamdama ‘alaiHim rabbuHum bidzambiHim (“Maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka.”) yakni kemurkaan Allah atas mereka dan menimpakan kebinasaan atas mereka. fasawwaaHaa (“Lalu Allah menyamaratakan mereka [dengan tanah]”) yakni Dia menjadikan hukuman itu turun kepada mereka secara merata. Qatadah mengatakan: “Kami pernah mendengar bahwa Uhaimir Tsamud tidak menyembelih unta betina itu melainkan [pasti] diikuti oleh anak-anak dan orang-orang dewasa di antara  mereka, laki-laki maupun perempuan  di antara mereka. Setelah kaumnya ikut menyembelihnya maka Allah menyamaratakan mereka dengan tanah atas dosa mereka yang telah mereka lakukan.”
Firman Allah: wa laa yakhaafu (“Dan Allah tidak takut.”) dan juga dibaca dengan falaa yakhaafu  ‘uqbaaHaa (“Terhadap akibat tindakan-Nya itu”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Allah tidak takut terhadap tuntutan dari siapapun juga.”
Sekian.

Asbaz SILAT Surat Al-Lail

1. demi malam apabila menutupi (cahaya siang),
2. dan siang apabila terang benderang,
3. dan penciptaan laki-laki dan perempuan,
4. Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.
5. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,
6. dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga),
7. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.
8. dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup*
9. serta mendustakan pahala terbaik,
10. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.
11. dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.
12. Sesungguhnya kewajiban kamilah memberi petunjuk,
13. dan Sesungguhnya kepunyaan kamilah akhirat dan dunia.
14. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.
15. tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,
16. yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).
17. dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,
18. yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,
19. Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,
20. tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi.
21. dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan.
*  Yang dimaksud dengan merasa dirinya cukup ialah tidak memerlukan lagi pertolongan Allah dan tidak bertakwa kepada-Nya.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang pemilik pohon kurma mempunyai pohon yang mayangnya menjulur ke rumah tetanganya, seorang fakir yang banyak anak. Setiap kali pemilik kurma itu memetik buahnya, ia memetiknya dari rumah tetangganya itu. Apabila ada kurma yang jatuh dan dipungut oleh anak-anak orang fakir itu, ia segera turun dan merampasnya dari tangan anak-anak itu, bahkan yang sudah masuk mulut mereka pun dipaksanya keluar.
Orang fakir itu mengadukan halnya kepada Nabi saw. Beliau berjanji akan menyelesaikannya. Kemudian Rasulullah saw bertemu dengan pemilik kurma itu dan bersabda: “Berikan kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si anu. Sebagai gantinya kamu akan mendapat pohon kurma di surge.” Si pemilik pohon kurma berkata: “Hanya sekian tawaran tuan? Aku mempunyai banyak pohon kurma, dan pohon kurma yang diminta itu yang paling baik buahnya.” Lalu si pemilik pohon kurma itu pun pergi.
Pembicaraan si pemilik pohon kurma dengan Nabi saw itu terdengan oleh seorang dermawan, yang langsung menghadap Rasulullah saw dan berkata: “Seandainya pohon itu menjadi milikku, apakah tawaran tuan itu berlaku juga bagiku?” Rasulullah saw menjawab : “Ya.” Maka pergilah orang itu menemui pemilik pohon kurma. Si pemilik pohon kurma berkata: “Apakah engkau tau bahwa Muhammad saw menjanjikan pohon kurma di surge sebagai ganti pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggaku ? Aku telah mencatat tawaran beliau. Akan tetapi buah pohon kurma itu sangat mengagumkan. Aku banyak mempunyai pohon kurma, tetapi tidak ada satu pohon pun yang selebat itu.” Orang dermawan itu berkata: “Apakah engkau mau menjualnya?” Ia menjawab : “Tidak, kecuali apabila ada orang yang sanggup memenuhi keinginanku, akan tetapi pasti tidak aka nada yang sanggup.” Orang dermawan itu berkata lagi: “Berapa yang engkau inginkan?” Ia berkata : “Aku ingin empat puluh pohon kurma.” Orang dermawan itu terdiam, kemudian berkata lagi : “Engkau minta yang bukan-bukan. Tapi baiklah aku berikan empat puluh pohon kurma padamu, dan aku minta saksi jika engkau benar-benar mau menukarnya.” Iapun memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyaksikan penukaran itu.
Orang dermawan itu menghadap Rasulullah saw dan berkata: “Ya Rasulullah, pohon kurma itu telah menjadi milikku. Aku akan menyerahkannya kepada tuan.” Maka berangkatlah Rasulullah saw menemui pemilik rumah yang fakir itu dan bersabda: “Ambillah pohon kurma itu untukmu dan keluargamu.” Maka turunlah ayat ini (al-Lail ayat 1- akhir ayat) yang membedakan kedudukan dan kesudahan orang bakhil dengan orang dermawan.
 (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dll, dari al-Hakam bin Abban, dari ‘Ikrimah, yang bersumber dari ‘Ibnu ‘Abbas. Menurut Ibnu Katsir, hadits ini gharib.)