Progran Silat ini lahir sebagai monitoring keseharian kita terhadap Al-Quran.. Menerapkan mangement Amanah bukan Beban.
Minggu, 12 Juli 2015
Doa Ngafalin Quran
Doa Nagafalin Qur'an
البسم الله الرحمن الرحيم
اللهم ان نسألك بكل السم هولك سمّيت به نفسك او انزالته في كتابك او اعطيته احداًمن خلقك اوستأثرت به في علم الغيب عندك انتجعل القران ربيع قلوبن ونور سدورن وجلا ٔعمومن ودهب احزانن وهمومن يا ارحم الراحمين
Allahumma inna nas aluka bikullismin huwalak, sammayta bihi nafsak, aw anzaltahu fi kitabik, aw a'thoytahu ahadam min kholkik, awistak tsarta bihi fi 'ilmil ghaibi 'indhak, antaj'alal Qur'ana robi'a qulubina, wanuro sudurina, wajalaa a 'umumina, wadahaba ahzanina wahumu mina, ya ar hamar rohimin..
Artinya:
kami memhon kpdaMu dg sgala namaMu yg mnjdi milikMu, yg dnganx engkau namakan driMu atau yg tlah engkau ajrkan kpd slah seorang mahlukMu atau yg tlah engkau trunkan di dlm ktabMu atau yg engkau rahasiakan dlm ilmu ghaib yg ada dsisiMu.
Agar engkau jadikan Al-Quran yg mulia sbgai pnyejuk hati kami, cahaya bagi dada kami, pelipur ksdihan kami, plenyap ksusahan n ksdihan kami, pngemudi & penunjuk kami mnuju surgamu. Surga yg penuh knikmatan, dg rahmatmu wahai dzat yg maha penyayang dari semua yg pnyayang.
Sabtu, 13 Juni 2015
Asbaz SILAT Surat AN-Naba'
1. tentang Apakah mereka saling
bertanya-tanya?
2. tentang berita yang besar*,
(An-Naba’ : 1-2)
* Yang dimaksud dengan berita
yang besar ialah berita tentang hari berbangkit.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan
Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari al-Hasan bahwa ketika Nabi Muhammad saw
diutus sebagai Rasul, orang-orang saling bertanya tentang berita yang dibawa
Rasul (kiamat). Ayat ini (An-Naba’: 1-2) turun berkenaan dengan peristiwa
tersebut.
Asbaz SILAT Surat An-Naaziaat
10.
(orang-orang kafir) berkata: “Apakah Sesungguhnya Kami benar-benar dikembalikan
kepada kehidupan semula*?
11. Apakah (akan dibangkitkan
juga) apabila Kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?”
12. mereka berkata: “Kalau
demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”.
(an-Naazi’aat: 10-12)
* Setelah orang-orang kafir
mendengar adanya hari kebangkitan sesudah mati mereka merasa heran dan mengejek
sebab menurut keyakinan mereka tidak ada hari kebangkitan itu. Itulah sebabnya
mereka bertanya demikian itu.
Diriwayatkan oleh Sa’id bin
Manshur yang bersumber dari Muhammad bin Ka’ab bahwa ketika turun Firman
Alla a innaa la marduuduuna fil haafiroh (…. Apakah sesungguhnya
kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula ?) (an-Naazi’aat:
10) sebagai keterangan kepada Rasulullah, dan terdengar oleh kaum kafir
Quraisy, mereka berkata: “Kalau kita dihidupkan kembali sesudah mati, tentu
kita akan rugi.” Maka turunlah ayat berikutnya (an-Naazi’aat: 12) sebagai
keterangan dari Allah kepada Rasul-Nya tentang ucapan kaum kafir Quraisy itu.
42. (orang-orang kafir)
bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?**
43. siapakah kamu (maka) dapat
menyebutkan (waktunya)?
44. kepada Tuhanmulah
dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).
45. kamu hanyalah pemberi
peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)
46. pada hari mereka melihat
hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia)
melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari**.
(an-Naazi’aat: 42-46)
** Kata-kata ini
mereka ucapkan adalah sebagai ejekan saja, bukan karena mereka percaya
akan hari berbangkit.
*** Karena hebatnya suasana hari
berbangkit itu mereka merasa bahwa hidup di dunia adalah sebentar saja.
Diriwayatkan oleh al-Hakim dan
Ibnu Jarir, yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa ayat-ayat ini (an-Naazi’aat:
42-44) turun sebagai penegasan bahwa hanya Allah yang mengetahui waktunya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim
dari Juwaibir, dari adl-Dlahhak, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum
musyrikin Mekah bertanya dengan sinis kepada Rasulullah saw: “Kapan terjadinya
kiamat?” Allah menurunkan ayat-ayat ini (an-Naazi’aat: 42-46) yang
menegaskan bahwa hanya Allah Yang Maha Mengetahui waktunya.
Diriwayatkan oleh ath-Thabarani
dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari Thariq bin Syihab. Diriwayatkan pula oleh
Ibnu Abi Hatim yang bersumber dar ‘Urwah bahwa Rasulullah saw sering
menyebut-nyebut kiamat. Maka turunlah ayat-ayat ini (an-Naazi’aat: 43-44)
sebagai perintah untuk menyerahkan persoalannya kepada Allah swt
Asbaz SILAT SUrat 'Abasa
1. Dia (Muhammad) bermuka masam
dan berpaling,
2. karena telah datang seorang
buta kepadanya*.
3. tahukah kamu barangkali ia
ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
4. atau Dia (ingin) mendapatkan
pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
5. Adapun orang yang merasa
dirinya serba cukup*,
6. Maka kamu melayaninya.
7. Padahal tidak ada (celaan)
atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman).
8. dan Adapun orang yang datang
kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
9. sedang ia takut kepada
(Allah),
10. Maka kamu mengabaikannya.
(‘Abasa: 1-10)
* Orang buta
itu bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Dia datang kepada Rasulullah s.a.w.
meminta ajaran-ajaran tentang Islam; lalu Rasulullah s.a.w. bermuka masam dan
berpaling daripadanya, karena beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan
pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah
surat ini sebagi teguran kepada Rasulullah s.a.w.
** Yaitu
pembesar-pembesar Quraisy yang sedang dihadapi Rasulullah s.a.w. yang
diharapkannya dapat masuk Islam.
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan
al-Hakim, yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Abu Ya’la yang
bersumber dari Anas bahwa Firman Allah. ‘Abasa wa tawallaa (Dia [Muhammad]
bermuka masam dan berpaling0 turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum, seorang
buta yang datang kepada Nabi Muhammad saw seraya berkata: “Berilah aku petunjuk
yang Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah saw sedang menghadapi para embesar
kaum musyrikin Quraisy. Beliau berpaling dari Ibnu Ummi Maktum dan tetap
menghadapi pembesar-pembesar Quraisy. Ibnu Ummi Maktum berkata: “Apakah yang
saya katakana ini mengganggu tuan ?” Rasulullah saw menjawab: “Tidak.”
Ayat-ayat ini (‘Abasa: 1-10) turun sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah
saw itu.
17. binasalah manusia; Alangkah
Amat sangat kekafirannya?
(‘Abasa: 17)
Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari
‘Ikrimah bahwa ayat ini (‘Abasa:17) turun berkenaan dengan ‘Utbah bin Abi Lahab
yang berkata: “Aku kufur kepada Rabb bintang.” Ayat ini menegaskan bahwa
manusia akan celaka karena kekufurannya.
admin sangat jauh dari kesempurnaan. mohon koreksi dan masukannya..
klik pelajaran "tajwid" dan "fiqih"
admin sangat jauh dari kesempurnaan. mohon koreksi dan masukannya..
klik pelajaran "tajwid" dan "fiqih"
Asbaz SILAT Surat At-Takwir
“ 28.(yaitu) bagi siapa di
antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.”
29. dan kamu tidak dapat
menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan
semesta alam.”
(At-Takwiir: 28)
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan
Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Sulaiman bin Musa. Diriwayatkan pula oleh
Ibnu Abi Hatim dari Baqiyyah bin ‘Amr bin Muhammad, dari Zaid bin Aslam, yang
bersumber dari Abu Hurairah. Diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir dari Sulaiman
bin al-Qasim bin Mukhaimarah bahwa ketika turun ayat li man syaa-a mingkum ay
yastaqiim ([yaitu] bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang
lurus) (At-Takwiir: 28), Abu Jahal berkata: “Kalau demikian, kitalah yang
menentukan, apakah mau lurus atau tidak.” Maka Allah menurunkan ayat berikutnya
(At-Takwiir: 29) yang membantah anggapan itu, dan menegaskan bahwa Allah-lah
yang menentukannya.
Asbaz SILAT Surat Al-Infithar
“Hai manusia, Apakah yang telah
memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah.”
(Al-Infithoor: 6)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Hatim yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ubay
bin Khalaf yang mengingkari hari ba’ts(dibangkitkan
dari kubur). Ayat ini merupakan teguran kepada orang yang tidak percaya kepada
ketentuan Allah.
Asbaz SILAT Surat Al-Mutaffifin
1. kecelakaan besarlah bagi
orang-orang yang curang*,
2. (yaitu) orang-orang yang apabila
menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,
3. dan apabila mereka menakar
atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.
(Al-Mutoffifiin: 1-3)
* Yang dimaksud dengan
orang-orang yang curang di sini ialah orang-orang yang curang dalam menakar dan
menimbang.
Diriwayatkan oleh an-Nasa-I dan
Ibnu Majah dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Ibny ‘Abbas bahwa
ketika Rasulullah saw sampai ke Madinah, diketahui bahwa orang-orang Madinah
termasuk orang-orang yang paling curang dalam menakar dan menimbang. Maka Allah
menurunkan ayat-ayat ini sebagai ancaman kepada orang-orang yang curang dalam
menimbang dan menakar. Setelah ayat-ayat tersebut turun, orang-orang Madinah
menjadi orang-orang yang jujur dalam menimbang dan menakar.
Asbaz dan Tafsir SILAT Surat Al-Insyiqaaq
Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Insyiqaaq (Terbelah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 84: 25
Surah Makkiyyah; Surah ke 84: 25
“16. Maka Sesungguhnya aku bersumpah dengan cahaya
merah di waktu senja, 17. dan dengan malam dan apa yang diselubunginya, 18. dan
dengan bulan apabila Jadi purnama, 19. Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi
tingkat (dalam kehidupan), 20. mengapa mereka tidak mau beriman? 21. dan
apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, 22. bahkan
orang-orang kafir itu mendustakan(nya). 23. Padahal Allah mengetahui apa yang
mereka sembunyikan (dalam hati mereka). 24. Maka beri kabar gembiralah mereka
dengan azab yang pedih, 25. tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh,
bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (al-Insyiqaaq: 16-25)
Kata asy-Syafaq berarti ufuk yang berwarna merah,
baik sebelum terbitnya matahari, sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid,
maupun setelah terbenamnya matahari, sebagaimana yang dikenal di kalangan para
ahli bahasa. Dan dalam kitab shahih Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Rasulullah
saw. beliau bersabda: “Waktu maghrib adalah selama syafaq belum terbenam.”
Firman Allah: Wal laili wa maa wasaq. (“Dan dengan
malam dan apa yang diselubunginya.”) yakni dikumpulkan. Mengenai firman-Nya
ini, ‘Ikrimah mengatakan: “Suatu kegelapan yang digiring apabila malam telah
tiba dan segala sesuatu pergi ke tempatnya.”
Firman Allah: wal qamari idzat tasaq (“Dan dengan
bulan apabila jadi purnama.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Jika telah berkumpul dan
menempati posisi yang sama.” Demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah, Muhahid,
dan Sa’id bin Jubair. Makna ungkapan mereka itu adalah jika cahaya itu sudah
sempurna dan menjadi purnama menuju kepada malam dan apa yang diseretnya.
Firman Allah: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq
(“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat [dalam kehidupan].”) Imam
Bukhari meriwayatkan dari Muhahid, dia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan:
latarkabunna thabaqan ‘an thabaq (“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi
tingkat [dalam kehidupan].”) yaitu dari satu keadaan ke keadaan yang lain.” Dia
mengatakan: “Inilah nabi kalian.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari
dengan lafazh tersebut. Dan hal itu mengandung kemungkinan bahwa Ibnu ‘Abbas
menyandarkan penafsiran tersebut dari Nabi saw. seakan-akan dia berkata: “Aku pernah
mendengar hal itu dari Nabi kalian.” Dengan demikian ucapannya: “Nabiyyukum
[nabi kalian].” Dengan menggunakan harakat dlmammah dalam posisi sebagai fa’il
(subyek) dari kata qaala, dan itulah yang lebih jelas. Wallahu a’lam.
Dan mungkin juga mengandung pengertian bahwa yang
dimaksud dengan firman-Nya: Firman Allah: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq
(“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat [dalam kehidupan].”) adalah
suatu keadaan ke keadaan yang lain. Dia mengatakan: “Dan itulah yang dimaksud dengan
ungkapan, “Inilah Nabi kalian saw.” sehingga berkedudukan marfu’ (menggunakan
harakat dlammah), dengan pengertian bahwa kata Haadzaa dan Nabiyyukum
berkedudukan sebagai mubatada’ dan khabar. wallaaHu a’lam.
Hal ini diperkuat oleh qira-at ‘Umar, Ibnu Mas’ud,
Ibnu ‘Abbas serta penduduk Makkah dan Kufah secara keseluruhan: litarkabanna,
yaitu dengan menggunakan harakat fathah pada huruf ta dan ba.
Firman Allah: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq
(“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat [dalam kehidupan].”) Ibnu ‘Abi
Hatim meriwayatkan dari asy-Sya’bi, dia mengatakan: “Engkau akan naik, hai
Muhammad, langit demi langit.” Demikian itu yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud,
Masruq, dan Abul ‘Aliyah; thabaqan ‘an thabaq; yang berarti langit demi langit.
Aku bertanya: “Apakah yang mereka maksudkan itu
malam isra’ Mir’raj?” As-Suddi sendiri mengatakan: latarkabunna thabaqan ‘an
thabaq (“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat.”) amal perbuatan
orang-orang sebelum kalian, satu kedudukan kepada kedudukan yang lain,
seolah-olah dia menghendaki pengertian haditst shahih: “Sesungguhnya kalian
akan menjalankan sunnah-sunnah orang-orang sebelum kalian sedikit demi sedikit,
bahkan meski mereka masuk ke liang biawak sekalipun pasti kalian akan
memasukinya.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah mereka itu
orang-orang Yahudi atau Nasrani?” Beliau menjawab: “Kalau bukan mereka siapa
lagi?” dan itu masih mengandung beberapa kemungkinan.
Firman Allah: fa maa laHum laa yu’minuun. Wa idzaa
quri-a ‘alaiHimul qur-aanu laa yasjuduun (“Mengapa mereka tidak mau beriman?
Dan apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.”)
maksudnya apa yang menghalangi mereka untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
dan hari akhir? Dan mengapa pula ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat dan
firman-firman Allah, yang ia tidak lain adalah al-Qur’an ini, tidak mau
bersujud untuk memberikan pengagungan dan penghormatan.
Firman Allah: baliladziina kafaruu yukadzdzibuun
(“Bahkan orang-orang kafir itu mendustakan[nya].”) yakni di antara watak mereka
adalah mendustakan, membangkang, dan menolak kebenaran. wallaaHu a’lamu bimaa
yuu-‘uun (“Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan [dalam hati
mereka].”) fabasysyirHum bi-‘adzaabin aliim (“Maka berilah kabar gembira kepada
mereka dengan adzab yang pedih.”) yakni beritahukanlah hai Muhammad, kepada
mereka bahwa Allah telah menyiapkan bagi mereka adzab yang sangat pedih.
Firman Allah: illalladziina
aamanuu wa ‘amilush shaalihati (“Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal
shalih.”) yang demikian itu merupakan bentuk pengecualian terputus [istisna’
mungqathi’] artinya, tetapi orang-orang yang beriman, yaitu dengan sepenuh
hatinya dan beramal shalih, yaitu dengan angggota tubuhnya, laHum ajrun (“bagi
mereka pahala.”) yakni di alam akhirat, ghairu mamnuun (“yang tidak
putus-putusnya.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni, tidak dikurangi.” Sedangkan
Mujahid dan adl-dlahhak mengatakan: “Yaitu tidak terhitung.” Dan perpaduan
antara kedua pendapat itu bahwa pahala itu tidak putus-putusnya.
Asbaz dan Tafsir SILAT Surat AL-Buruj
Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Buruuj (Gugusan Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 85: 22 ayat
Surah Makkiyyah; Surah ke 85: 22 ayat
Firman Allah: innalladziina fatanul mu’miniina wal
mu’minaati (“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada
orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.”) yakni dengan membakar mereka.
Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, dan
Ibnu Abza. Tsumma lam yatuubu (“kemudian mereka tidak bertaubat.”) yakni tidak
melepaskan diri dari apa yang telah mereka lakukan dan tidak pula menyesalinya.
falaHum ‘adzaabu jaHannama wa laHum ‘adzaabul hariiq (“Maka bagi mereka adzab
jahanam dan bagi mereka adzab (neraka) yang membakar.”) yang demikian itu
karena balasan itu sesuai dengan amal perbuatan. Al-Hasan al-Bashri mengungkapkan:
“Lihatlah pada kemurahan dan kedermawanan ini. Mereka telah membunuh para
wali-Nya, tetapi Dia justru mengajak mereka untuk bertaubat dan memohon
ampunan.”
“11. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai; Itulah keberuntungan yang besar. 12. Sesungguhnya azab Tuhanmu
benar-benar keras. 13. Sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan (makhluk) dari
permulaan dan menghidupkannya (kembali). 14. Dia-lah yang Maha Pengampun lagi
Maha Pengasih, 15. yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha mulia, 16. Maha Kuasa
berbuat apa yang dikehendaki-Nya. 17. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum
penentang, 18. (Yaitu kaum) Fir’aun dan (kaum) Tsamud? 19. Sesungguhnya
orang-orang kafir selalu mendustakan, 20. Padahal Allah mengepung mereka dari
belakang mereka. 21. bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang
mulia, 22. yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (Al-Buruuj: 11-22)
Allah memberitahukan hamba-hamba-Nya yang beriman
bahwa: laHum jannaatun tajrii min tahtiHal anHaaru (“Bagi mereka surge yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai.”) berbeda dengan apa yang disediakan bagi
musuh-musuh-Nya yang berupa pembakaran dan neraka jahanam. Oleh karena itu, Dia
berfirman: dzaalikal fauzul kabiir (“Itulah keberuntungan yang besar.”)
Kemudian Dia berfirman: inna bath-sya rabbika
lasyadiid (“Sesungguhnya adzab RAbb-mu benar-benar keras.”) maksudnya, adzab
dan siksa bagi musuh-musuh-Nya yang telah mendustakan para Rasul-Nya dan
menyalahi perintah-Nya benar-benar sangat keras lagi dasyat dan kuat, karena
sesungguhnya Allah mempunyai kekuatan yang sangat kuat, apa saja yang Dia
kehendaki pasti akan terjadi sebagaimana yang Dia kehendaki dalam sekejap mata
atau lebih cepat lagi. Oleh karena itu, Dia berfirman: innaHuu Huwa yubdi-u wa
yu-‘iid (“Sesungguhnya Dia yang menciptakan [makhluk] dari permulaan dan
menghidupkannya [kembali].”) yakni, dengan kekuatan dan kekuasaan-Nya yang
sempurna Dia memulai penciptaan kemudian mengembalikannya lagi seperti sediakala
tanpa ada yang menghalangi dan tidak juga mencegah. Wa Huwal gharuurul waduudu
(“Dialah yang Mahapengampun lagi Mahapengasih.”) yakni mengampuni dosa orang
yang bertaubat dan tunduk kepada-Nya, apapun dosanya. Sedangkan mengenai
al-waduud, Ibnu ‘Abbas dan juga yang lainnya mengatakan: “Yaitu yang penuh
cinta kasih.” Dzul ‘arsyi (“Yang mempunyai ‘Arsy”) yakni pemilik ‘Arsy yang
agung lagi tinggi di atas semua makhluk. Sedangkan kata al-Majiid (Mahamulia),
terdapat dua bacaan, yaitu dengan harakat dlammah dengan kedudukan sebagai
sifat bagi rabb, dan yang kedua dengan menggunakan harakat kasrah dengan
kedudukan sebagai sifat bagi ‘Arsy, namun demikian keduanya benar.
Fa’-‘aalullimaa yuriid (“Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”) apapun
yang hendak Dia lakukan pasti Dia lakukan, tidak ada yang menuntut balas
terhadap hukum-Nya dan tidak juga ditanyakan mengenai apa yang diperbuat-Nya,
karena keagungan, keperkasaan, kebijaksanaan, dan keadilan-Nya.
Firman-Nya: Hal ataaka hadiitsul junuudi fir’auna wa
tsamuuda (“Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, [yaitu kaum]
Fir’aun dan [kaum] Tsamud?”) artinya, apakah telah sampai kepadamu berita
tentang adzab dan juga malapetaka yang telah menimpa mereka, yang tidak
seorangpun sanggup mencegahnya? Yang demikian itu merupakan penegasan bagi
firman Allah sebelumnya: inna bath-sya rabbika lasyadiid (“Sesungguhnya adzab
RAbb-mu benar-benar keras.”) maksudnya, jika Dia menimpakan siksaan kepada
orang dhalim, maka Dia akan mengadzabnya dengan adzab dari Rabb Yang
Mahaperkasa lagi Mahakuasa.
Firman-Nya: balilladziina kafaruu fii takdziib
(“Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan.”) maksudnya mereka selalu
dalam keraguan, kekufuran, dan pembangkangan. wallaaHu miw waraa-iHimmuhiith
(“Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka.”) Yakni Dia berkuasa
atas mereka, Mahaperkasa, tidak ada yang dapat lepas dari siksaan-Nya, serta
tidak juga mereka dapat membuat-Nya lemah. Bal Huwa qur-aanum majiid (“Bahkan
yang didustakan mereka itu ialah al-Qur’an yang mulia.”) yakni agung lagi
mulia. Fii lauhim mahfuudh (“yang tersimpan di Lauhul Mahfudh.”) yakni
al-mala-ul a’laa, terpelihara dari penambahan dan pengurangan, serta terjaga
dari penyimpangan dan perubahan.
Asbaz SILAT Surat At-Thariq
“ Maka hendaklah manusia
memperhatikan dari apakah dia diciptakan” (Ath-Thooriq:5)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari
‘Ikrimah bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abul Asad yang berdiri di atas
kulit yang sudah disamak, sambil berkata dengan sombong: “Hai golongan Quraisy,
barang siapa yang bisa memindahkan aku dari kulit ini, akan aku beri hadiah.”
Selanjutnya ia berkata, “Muhammad menganggap bahwa pintu jahanam itu berjumlah
Sembilan belas. Aku sendiri sanggup mewakili kalian mengalahkan yang sepuluh,
dan kalian mengalahkan yang Sembilan lagi.” Ayat ini turun sebagai
sindiran terhadap perbuatan mereka.
Asbaz SILAT Surat Al-A'la
Kami akan membacakan (Al Quran)
kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa,
(al-A’laa: 6)
Diriwayatkan ole hath-Thabarani
yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Di dalam sanadnya terdapat Juwaibir, perawi
yang sangat daif, bahwa apabila Jibril datang membawa wahyu kepada Nabi saw, beliau
suka mengulang kembali wahyu itu sebelum Jibril selesai menyampaikannya, karena
takut lupa lagi. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-A’laa: 6) sebagai jaminan
bahwa Rasul tidak akan lupa pada wahyu yang telah diturunkan.
Asbaz SILAT Surat Al-Ghasyiyah
17. Maka Apakah mereka tidak
memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan,
(al-Ghasyiyah: 17)
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan
Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Qatadah bahwa ketika Allah melukiskan
cirri-ciri syurga, kaum-kaum yang sesat merasa heran. Maka Allah menurunkan
ayat ini (al-Ghasyiyah: 17) sebagai perintah untuk memikirkan keluhuran
dan keajaiban ciptaan Allah.
Asbaz SILAT Surat Al-Fajr
27. Hai jiwa yang tenang. (al-Fajr:
27)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim
yang bersumber dari Buradah bahwa firman Allah surat al Fajr: 27 turun
berkenaan dengan Hamzah (yang gugur sebagai syahid)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Juwaibir, dari
adl-Dlahak, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi saw bersabda: “Siapa
yang akan membeli sumur Rumat untuk melepaskan dahaga. Mudah-mudahan Allah
mengampuni dosanya.” Sumur itupun dibeli oleh Utsman. Nabi saw bersabda:
“Apakah engkau rela sumur itu dijadikan sumber minum bagi semua orang?” Utsman
mengiyakannya. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Fajr: 27) berkenaan dengan
Utsman.
Asbaz dan Tafsir SILAT Surat Al-Balad
Tafsir Ibnu Katsir Surah
Al-Balad (Negeri)
Surah Makkiyyah; Surah ke 90:
20 ayat
“1. aku benar-benar bersumpah
dengan kota ini (Mekah), 2. dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini, 3.
dan demi bapak dan anaknya. 4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
berada dalam susah payah. 5. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali
tiada seorangpun yang berkuasa atasnya? 6. dan mengatakan: “Aku telah
menghabiskan harta yang banyak”. 7. Apakah Dia menyangka bahwa tiada seorangpun
yang melihatnya? 8. Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, 9.
lidah dan dua buah bibir. 10. dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (al-Balad:
1-10)
Yang demikian itu merupakan
sumpah dari Allah dengan kota Makkah, Ummul Qura pada saat penghuni di sana
dihalalkan, untuk mengingatkan akan keagungan dan kemuliaannya pada saat
penduduknya berikhram. Dari Mujahid, Khushaif mengataka: “laa uqsimu biHaadzal
baladi (“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini [Makkah].”) tidak ada
penolakan atas mereka. Aku bersumpah dengan negeri ini. Syabib bin Bisyir
mengatakan dari ‘Ikrimah dan Ibnu ‘Abbas: “laa uqsimu biHaadzal baladi
(“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini [Makkah].”) yakni kota Makkah ini.”
Dia berkata: “Hai Muhammad, diperbolehkan bagimu untuk berperang di dalamnya.”
Demikian juga yang diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Abu Shalih, ‘Athiyah,
adl-Dlahhak, Qatadah, as-Suddi, dan Ibnu Zaid. Mujahid mengatakan: “Apa
yang engkau dapatkan di dalamnya maka ia halal bagimu.” Al-Hasan al-Bashri
mengatakan: “Allah menghalalkannya untuk beliau sesaat di waktu
siang hari.” Dan inilah makna yang mereka katakan. Dan hal itu juga telah
disebutkan oleh hadits yang keshahihannya telah disepakati:
“Sesungguhnya negeri ini telah
diharamkan [disucikan] oleh Allah pada saat Dia menciptakan langit dan bumi.
Dan negeri tersebut tetap dalam keadaan haram [suci] dengan keharamannya
[kesuciaannya] yang telah ditetapkan oleh Allah sampai hari kiamat
kelak. Pepohonannya tidak boleh ditebang, tanamannya yang masih hidup
tidak boleh dicabut. Dan sesungguhnya pernah dihalalkan bagiku [berperang di
sana] sesaat pada siang hari. Dan pada hari ini pengharamannya telah berlaku
lagi, sebagaimana diharamkannya kemarin. Ketahuilah, hendaklah orang yang hadir
hari ini menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.”
Dalam lafazh lain disebutkan:
“Jika ada seseorang yang merasa diberi keringanan karena peperangan yang pernah
dilakukan Rasulullah, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya Allah mengizinkan
bagi Rasul-Nya dan tidak mengizinkan bagi kalian.’”
Firman Allah: wa waadidiw wa maa
walada (“Dan demi bapak dan anaknya,”) Mujahid, Abu Shalih, Qatadah,
adl-Dlahhak, Sufyan ats-Tsauri, Sa’id bin Jubair, as-Suddi, al-Hasan al-Bashri,
Khushaif, Syarhabil bin Sa’ad dan lain-lainnya mengatakan: “Yang dimaksud
dengan bapak di sini adalah Adam sedang anaknya adalah anak Adam.” Dan apa yang
menjadi pendapat Mujahid dan para shahabatnya inilah yang paling kuat, karena
Allah Ta’ala bersumpah dengan Ummul Qura, yaitu tempat-tempat yang didiami. Dia
bersumpah dengan orang yang mendiaminya, yaitu Adam, bapak ummat manusia dan
semua anaknya. Ibnu Jarir memilih berpendapat bahwa hal itu bersifat umum yang
mencakup setiap orang tua dan anaknya. Dan pendapat inipun mengandung
kemungkinan.
Firman Allah: laqad khalaqnal
ingsaana fii kabadin (“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada di
dalam susah payah.”) Sa’id bin Jubair berkata tentang “fii kabad”: yakni dalam
kesusahan dan pencarian kehidupan.” Ibnu Jarir memilih berpendat bahwa yang
dimaksud adalah berbagai urusan yang sulit lagi payah.
Firman-Nya: a yahsabu allay
yaqdira ‘alaiHi ahad (“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-sekali tidak
ada seorangpun yang berkuasa atasnya?”) al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Yakni
mengambil hartanya.” Mengenai firman-Nya ini Qatadah mengatakan: “Anak Adam
mengira bahwa mereka tidak akan ditanya tentang harta tersebut, darimana dia
memperolehnya dan kemana dia menyalurkannya.” Mengenai firmannya ini as-Suddi
mengatakan: “Allah berfirman.”
Firman-Nya: yaquulu aHlaktu
maalan (“Dia mengatakan: ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak.’”) artinya
anak Adam mengatakan: “Aku telah membelanjakan harta yang cukup banyak.”)
demikian yang dikemukakan oleh Muhahid, al-Hasan, Qatadah, as-Suddi dan
lain-lain. A yahsabu allam yaraHuu ahad (“Apakah dia menyangka bahwa
tidak ada seorangpun yang melihatnya.” Mujahid mengatakan: “Yakni, apakah
dia mengira Allah tidak melihatnya?” demikian juga perkataan ulama salaf
lainnya.
Firman-Nya: a lam naj’al laHuu
‘ainaiin (“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.”) yakni
melihat dengan keduanya. Wa lisaanan (“Dan lidah”) yakni dengannya dia
bicara sehingga ia dapat mengungkapkan apa yang ada di dalam hati
kecilnya. Wa syafataiin (“Dan dua buah bibir.”) dengan kedua bibir itu dia
meminta bantuan untuk dapat berbicara, memakan makanan, sekaligus untuk
memperindah wajah dan mulutnya. Wa HadainaaHun najdaiin (“Dan Kami telah
menunjukkan kepadanya dua jalan”) yakni dua jalan. Sufyan ats-Tsauri
berkata dari ‘Abdullah, yakni bin Mas’ud tentang ayat ini dia mengatakan:
“Kebaikan dan keburukan.” Demikian yang diriwayatkan oleh ‘Ali, Ibnu ‘Abbas,
Mujahid, ‘Ikrimah, Abu Wa-il, Abu Shalih, Muhammad bin Ka’ab,
adl-Dlahhak, ‘Atha’ al-Khurasani. Dan perbandingan ayat ini adalah firman Allah
Ta’ala: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani
yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan),
karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami
telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang
kafir.” (al-Insaan: 2-3)
Asbaz dan Tafsir Surat As-Syams
Tafsir Ibnu Katsir Surah
Asy-Syams (Matahari)
Surah Makkiyyah; Surah ke 91:
15 ayat
“1. demi matahari dan cahayanya
di pagi hari, 2. dan bulan apabila mengiringinya, 3. dan siang apabila
menampakkannya, 4. dan malam apabila menutupinya, 5. dan langit serta
pembinaannya, 6. dan bumi serta penghamparannya, 7. dan jiwa serta
penyempurnaannya (ciptaannya), 8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan ketakwaannya. 9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang
mensucikan jiwa itu, 10. dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams:
1-10)
Mujahid mengatakan: bahwa, wasy
syamsi wa dluhaaHaa (“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.”) yakni
sinarnya. Sedangkan Qatadah mengatakan: wadluhaaHaa (“Pada pagi hari”) yakni
siang secara keseluruhan. Ibu Jarir mengatakan bahwa yang benar adalah dengan
mengatakan: “Allah bersumpah dengan matahari dan siangnya, karena sinar
matahari yang paling tampak jelas adalah pada siang hari.” Wal qamari idzaa
tallaaHaa (“Dan bulan apabila mengiringinya.”) Mujahid mengatakan: “Yakni
mengikutinya.” Sedangkan Qatadah mengatakan: “Yakni jika mengikutinya pada
malam bulan purnama, jika matahari tenggelam maka rembulan akan muncul. Ibnu
Zaid mengatakan: “Bulan mengikutinya pada pertengahan pertama pertama setiap
bulan. Kemudian matahari mengikutinya, dimana bulan mendahuluinya pada
pertengahan terakhir setiap bulan.”
Firman-Nya: wan naHaari idzaa
jallaaHaa (“Dan siang apabila menampakkannya”) Mujahid mengatakan: “Bersinar”.
Sedangkan Qatadah mengatakan: wan naHaari idzaa jallaaHaa (“Dan siang apabila
menampakkannya”) jika diliputi oleh siang.” Ibnu Jarir mengtakan: “Sebagian
penduduk Arab menafsirkan hal tersebut dengan pengertian: ‘Jika siang
menyelimuti gelap,’ karena dalalah pembicaraan mengarah kesana. Dapa saya
katakana, jika orang yang mengatakan itu menafsirkan: wan naHaari idzaa
jallaaHaa (“Dan siang apabila menampakkannya”) dengan pengertian bentangan,
maka akan lebih baik dan akan benar pula penafsirannya terhadap firman Allah:
wal laili idzaa yaghsyaa (“Dan malam apabila menutupinya.”) niscaya akan lebih
baik dan akurat. wallaaHu a’lam. Oleh karena itu mengenai firman-Nya: wan
naHaari idzaa jallaaHaa (“Dan siang apabila menampakkannya”) Mujahid
mengatakan: “Yang demikian itu sama seperti firman Allah: wan naHaari idzaa
tajallaa (“Dan siang apabila terang benderang.”)
Sedangkan ibnu Jarir lebih
memilih untuk mengembalikan dlamir (kata ganti) dalam semuanya itu kepada
matahari, karena arus penyebutannya. Dan mengenai firman Allah: wal laili idzaa
yaghsyaa (“Dan malam apabila menutupinya.”) mereka mengatakan: “Yakni jika
malam menutupi matahari, yaitu saat matahari terbenam sehingga seluruh ufuk
menjadi gelap.
Firman Allah: was samaa-i wamaa
banaaHaa (“Dan langit serta pembinaannya.”) kata “maa” dalam ayat ini mencakup
kemungkinan sebagai mashdar dengan pengertian, “Dan langit dan pembangunannya.”
Yang demikian itu merupakan pendapat Qatadah. Dan mungkin juga kata “maa”
tersebut berarti “man”(siapa), dengan pengertian: “Langit yang membangunnya.”.
dan yang terakhir ini merupakan pendapat Mujahid. Kedua pengertian tersebut
saling berhubungan. Dengan kata al-binaa’ berarti peninggian. Demikian pula
firman Allah: wal ardli wamaa thahaaHaa (“Dan bumi serta penghamparannya.”)
Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, as-Suddi, ats-Tsauri, Abu Shalih dan Ibnu
Zaid mengatakan: thahaaHaa berarti menghamparkannya.” Dan itulah yang paling
populer. Pengertian itu pula yang diberikan oleh mayoritas ahli tafsir dan yang
dikenal oleh para ahli bahasa.
Firman Allah: Wa nafsiw wamaa
sawwaaHaa (“Dan jiwa serta penyempurnaannya.”) yakni penciptaan yang sempurna
lagi tegak pada fitrah yang lurus. Sedangkan firman-Nya: fa alHamaHaa
fujuuraHaa wa taqwaaHaa (“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu [jalan]
kefasikan dan ketakwaan.”) yakni Dia mengarahkan kepada kekejian dan
ketakwaan. Artinya, Dia menjelaskan kepadanya seraya menunjukkan apa yang
ditakdirkan untuknya.
Mengenai firman-Nya: fa alHamaHaa
fujuuraHaa wa taqwaaHaa (“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu [jalan]
kefasikan dan ketakwaan.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Dia menjelaskan yang baik
dan yang buruk kepadanya.” Demikian pula yang disampaikan oleh Mujahid,
Qatadah, adl-Dlahhak, dan ats-Tsauri. Ibnu Jarir menceritakan dari Abul Aswad
ad-Daili, dia berkata: ‘Imran bin al-Husain pernah berkata kepadaku, “Tahukah
engkau apa yang dikerjakan dan diupayakan oleh umat manusia di sana maka
akan diberi keputusan kepada mereka dan diberlakukan pula ketetapan bagi
mereka, baik ketetapan yang telah berlalu maupun yang akan mereka terima dari
apa yang dibawa oleh Nabi mereka, Muhammad saw. dan ditegaskan pula
hujjah bagi mereka?” Aku katakan: “Tetapi ada sesuatu yang telah ditetapkan
bagi mereka.” Dia bertanya: “Apakah yang demikian itu berupa kedzaliman?” –Dia
berkata, maka aku benar-benar terkejut mendengarnya. Dia berkata, lalu aku
katakan kepadanya: “Tidak ada sesuatupun melainkan Dia yang menciptakan
dan menguasainya, dia tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang Dia
kerjakan tetapi mereka akan dimintai tanggung jawab.” Dia berkata:
“Mudah-mudahan Allah meluruskanmu, sesungguhnya aku bertanya kepadamu
hanya untuk menguji akalmu bahwasannya ada seseorang dari Muzinah atau Juhainah
datang kepada Rasulullah saw. seraya bertanya: “Wahai Rasulallah, bagaimana
menurut pendapatmu tentang apa yang dikerjakan dan diusahakan umat manusia di
sana, adakah sesuatu yang ditetapkan atas mereka dan berlaku bagi mereka
ketetapan yang telah lebih dulu ataukan sesuatu yang mereka terima dari apa
yang dibawa oleh Nabi mereka, serta ditegaskan hujjah atas mereka?” Beliau
menjawab: “Tetapi sesuatu sudah ditetapkan atas mereka.” Orang itu
bertanya: “Lalu untuk apa salah satu dari kedua kedua kedudukan yang disediakan
untuknya. Dan yang membenarkan hal tersebut terdapat di dalam kitabullah: wa
nafsiw wamaa sawwaaHaa fa alHamaHaa fujuuraHaa wa taqwaaHaa (“Dan jiwa
serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu [jalan]
kefasikan dan ketakwaan.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim.
Firman Allah: qad aflaha
mangzakkaaHaa. Wa qad khaaba man dassaaHaa (“Sesungguhnya beruntunglah orang
yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”)
Ada kemungkinan hal itu berarti beruntunglah orang yang mensucikan dirinya,
yakni dengan menaati Allah, sebagaimana yang dikemukakan oleh Qatadah, dan
membersihkannya dari aklak tercela dan berbagai hal yang hina. Hal senada juga
diriwayatkan dari Mujahid, ‘Ikrimah, dan Sa’id bin Jubair. Dan seperti
firman-Nya: qad aflaha man tazakkaa. Wa dzakaras marabbiHii fashallaa
(“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri [dengan beriman], dan
dia ingat Nama Rabb-nya, lalu dia shalat.”) (al-A’laa: 14-15)
Wa qad khaaba man dassaaHaa
(“Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”) yakni mengotorinya,
dengan membawa dan meletakkannya pada posisi menghinakan dan menjauhkan dari
petunjuk sehingga dia berbuat maksiat dan meninggalkan ketaatan kepada
Allah. Dan mungkin juga mempunyai pengertian; beruntunglah orang yang disucikan
jiwanya oleh Allah dan merugilah orang-orang yang jiwanya dibuat kotor
oleh-Nya. Sebagaimana yang disampaikan oleh al-‘Aufi dan ‘Ali bin Abi Thalhah
dari Ibnu ‘Abbas.
Imam Ahmad meriwayatkan dari
Zaid bin Argam, dia berkata: “Rasulullah saw. telah bersabda: ‘Ya Alla,
sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan juga
ketuaan, pengecut, kikir dan adzab kubur. Ya Allah, berikanlah ketakwaan pada
jiwaku dan sucikanlah, sesungguhnya Engkau sebaik-baik Rabb yang menyucikan,
Engkau pelindung sekaligus Penguasanya. Ya Allah, sesungguhnya aku
berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak pernah khusyu’ dan dari jiwa
yang tidak pernah merasa puas, dan juga ilmu yang tidak bermanfaat serta doa
yang tidak dikabulkan.” Zaid berkata: “Rasulullah saw. pernah mengajarkan doa
itu kepada kami dan kamipun mempelajarinya.” Diriwayatkan oleh Muslim.
“11. (kaum) Tsamud telah
mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, 12. ketika bangkit orang
yang paling celaka di antara mereka, 13. lalu Rasul Allah (Saleh) berkata
kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya”. 14. lalu mereka
mendustakannya dan menyembelih unta itu, Maka Tuhan mereka membinasakan mereka
disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), 15.
dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” (asy-Syams:
11-15)
Allah mengabarkan tentang kisah
kaum Tsamud, dimana mereka mendustakan Rasul-rasul mereka yang disebabkan
karena kesewenang-wenangan dan melampaui batas dalam diri mereka. Oleh
karena itu Allah menimpakan kedustaan dalam diri mereka terhadap petunjuk dan
keyakinan yang dibawa oleh rasul mereka.
Idzim ba’atsa asyqaaHaa (“Ketika
bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.”) yakni kabilah yang paling
celaka, yaitu Qadar bin Salif yang telah membunuh unta, yang tidak lain dia
adalah Uhaimar Tsamud. Dialah yang pernah difirmankan Allah: fanaadaw
shaahibaHum fata’aathaa fa’aqara (“Kemudian mereka memanggil kawan mereka, lalu
diapun datang lalu menyembelihnya.”) dan ayat seterusnya. (al-Qamar: 29). Orang
ini sangat mulia dan dihormati oleh kaumnya sekaligus sebagai pemimpin yang
ditaati. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari ‘Abdullah bin Zam’ah,
dia berkata: “Rasulullah saw. pernah berkhutbah, lalu beliau menyinggung
masalah unta (unta Nabi Shalih) dan menyebutkan orang yang
menyembelihnya, dimana beliau bersabda: ‘Ketika bangkit orang yang paling
celaka di antara mereka. Bangkitlah seorang yang besar, yang paling disegani di
tengah-tengah kaumnya, seperti Abu Zam’ah.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari di
dalam kitab at-Tafsiir dan juga Muslim di dalam kitab Shifatun Naar. Juga
at-Tirmidzi dan an-Nasa-i dalam kitab at-Tafsir pada kitab Sunan keduanya.
Firman Allah: faqaala laHum
rasuulullaaHi (“Lalu Rasul Allah berkata kepada mereka”) yakni Nabi Shalih.
NaaqatallaaHi (“Unta betina Allah.”) maksudnya, jauhkan diri kalian dari unta
Allah dan janganlah kalian mengganggunya, wa suqyaaHaa (“Dan minumannya.”)
maksudnya, janganlah kalian berlebihan dalam meminumnya, karena ia mempunyai
jatah minum satu hari dan kalianpun mempunyai jatah minum satu hari tertentu.
Allah berfirman: fakadzdzabuuHu fa’aqaruuHaa (“lalu mereka mendustakannya dan
menyembelih unta itu”) yaitu mereka mendustakan apa yang dibawa oleh Rasul
kepada mereka, sehingga sikap mereka itu dibalas dengan hukuman berupa
penyembelihan unta betina yang dikeluarkan oleh Allah dari bebatuan sebagai
tanda kekuasaan bagi mereka sekaligus sebagai hujjah atas mereka.
Fadamdama ‘alaiHim rabbuHum bidzambiHim
(“Maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka.”) yakni
kemurkaan Allah atas mereka dan menimpakan kebinasaan atas mereka. fasawwaaHaa
(“Lalu Allah menyamaratakan mereka [dengan tanah]”) yakni Dia menjadikan
hukuman itu turun kepada mereka secara merata. Qatadah mengatakan: “Kami pernah
mendengar bahwa Uhaimir Tsamud tidak menyembelih unta betina itu melainkan
[pasti] diikuti oleh anak-anak dan orang-orang dewasa di antara mereka,
laki-laki maupun perempuan di antara mereka. Setelah kaumnya ikut
menyembelihnya maka Allah menyamaratakan mereka dengan tanah atas dosa mereka
yang telah mereka lakukan.”
Firman Allah: wa laa yakhaafu
(“Dan Allah tidak takut.”) dan juga dibaca dengan falaa yakhaafu
‘uqbaaHaa (“Terhadap akibat tindakan-Nya itu”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Allah
tidak takut terhadap tuntutan dari siapapun juga.”
Sekian.
Asbaz SILAT Surat Al-Lail
1. demi malam apabila menutupi
(cahaya siang),
2. dan siang apabila terang
benderang,
3. dan penciptaan laki-laki dan
perempuan,
4. Sesungguhnya usaha kamu
memang berbeda-beda.
5. Adapun orang yang memberikan
(hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,
6. dan membenarkan adanya
pahala yang terbaik (syurga),
7. Maka Kami kelak akan
menyiapkan baginya jalan yang mudah.
8. dan Adapun orang-orang yang
bakhil dan merasa dirinya cukup*
9. serta mendustakan pahala
terbaik,
10. Maka kelak Kami akan
menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.
11. dan hartanya tidak
bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.
12. Sesungguhnya kewajiban
kamilah memberi petunjuk,
13. dan Sesungguhnya kepunyaan
kamilah akhirat dan dunia.
14. Maka, Kami memperingatkan kamu
dengan neraka yang menyala-nyala.
15. tidak ada yang masuk ke
dalamnya kecuali orang yang paling celaka,
16. yang mendustakan
(kebenaran) dan berpaling (dari iman).
17. dan kelak akan dijauhkan
orang yang paling takwa dari neraka itu,
18. yang menafkahkan hartanya
(di jalan Allah) untuk membersihkannya,
19. Padahal tidak ada
seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,
20. tetapi (dia memberikan itu
semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi.
21. dan kelak Dia benar-benar
mendapat kepuasan.
* Yang dimaksud dengan
merasa dirinya cukup ialah tidak memerlukan lagi pertolongan Allah dan tidak
bertakwa kepada-Nya.
Dalam suatu riwayat dikemukakan
bahwa seorang pemilik pohon kurma mempunyai pohon yang mayangnya menjulur ke
rumah tetanganya, seorang fakir yang banyak anak. Setiap kali pemilik kurma itu
memetik buahnya, ia memetiknya dari rumah tetangganya itu. Apabila ada kurma
yang jatuh dan dipungut oleh anak-anak orang fakir itu, ia segera turun dan
merampasnya dari tangan anak-anak itu, bahkan yang sudah masuk mulut mereka pun
dipaksanya keluar.
Orang fakir itu mengadukan
halnya kepada Nabi saw. Beliau berjanji akan menyelesaikannya. Kemudian
Rasulullah saw bertemu dengan pemilik kurma itu dan bersabda: “Berikan kepadaku
pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si anu. Sebagai gantinya kamu akan
mendapat pohon kurma di surge.” Si pemilik pohon kurma berkata: “Hanya sekian
tawaran tuan? Aku mempunyai banyak pohon kurma, dan pohon kurma yang diminta
itu yang paling baik buahnya.” Lalu si pemilik pohon kurma itu pun pergi.
Pembicaraan si pemilik pohon
kurma dengan Nabi saw itu terdengan oleh seorang dermawan, yang langsung
menghadap Rasulullah saw dan berkata: “Seandainya pohon itu menjadi milikku,
apakah tawaran tuan itu berlaku juga bagiku?” Rasulullah saw menjawab : “Ya.”
Maka pergilah orang itu menemui pemilik pohon kurma. Si pemilik pohon kurma
berkata: “Apakah engkau tau bahwa Muhammad saw menjanjikan pohon kurma di surge
sebagai ganti pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggaku ? Aku
telah mencatat tawaran beliau. Akan tetapi buah pohon kurma itu sangat
mengagumkan. Aku banyak mempunyai pohon kurma, tetapi tidak ada satu pohon pun
yang selebat itu.” Orang dermawan itu berkata: “Apakah engkau mau menjualnya?”
Ia menjawab : “Tidak, kecuali apabila ada orang yang sanggup memenuhi
keinginanku, akan tetapi pasti tidak aka nada yang sanggup.” Orang dermawan itu
berkata lagi: “Berapa yang engkau inginkan?” Ia berkata : “Aku ingin empat
puluh pohon kurma.” Orang dermawan itu terdiam, kemudian berkata lagi : “Engkau
minta yang bukan-bukan. Tapi baiklah aku berikan empat puluh pohon kurma
padamu, dan aku minta saksi jika engkau benar-benar mau menukarnya.” Iapun
memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyaksikan penukaran itu.
Orang dermawan itu menghadap
Rasulullah saw dan berkata: “Ya Rasulullah, pohon kurma itu telah menjadi
milikku. Aku akan menyerahkannya kepada tuan.” Maka berangkatlah Rasulullah saw
menemui pemilik rumah yang fakir itu dan bersabda: “Ambillah pohon kurma itu
untukmu dan keluargamu.” Maka turunlah ayat ini (al-Lail ayat 1- akhir ayat)
yang membedakan kedudukan dan kesudahan orang bakhil dengan orang dermawan.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Hatim dll, dari al-Hakam bin Abban, dari ‘Ikrimah, yang bersumber dari ‘Ibnu
‘Abbas. Menurut Ibnu Katsir, hadits ini gharib.)
Langganan:
Komentar (Atom)