Sabtu, 13 Juni 2015

Asbaz dan Tafsir SILAT Surat Al-Insyiqaaq

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Insyiqaaq (Terbelah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 84: 25
“16. Maka Sesungguhnya aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja, 17. dan dengan malam dan apa yang diselubunginya, 18. dan dengan bulan apabila Jadi purnama, 19. Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan), 20. mengapa mereka tidak mau beriman? 21. dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, 22. bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya). 23. Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). 24. Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih, 25. tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (al-Insyiqaaq: 16-25)
Kata asy-Syafaq berarti ufuk yang berwarna merah, baik sebelum terbitnya matahari, sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid, maupun setelah terbenamnya matahari, sebagaimana yang dikenal di kalangan para ahli bahasa. Dan dalam kitab shahih Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Waktu maghrib adalah selama syafaq belum terbenam.”
Firman Allah: Wal laili wa maa wasaq. (“Dan dengan malam dan apa yang diselubunginya.”) yakni dikumpulkan. Mengenai firman-Nya ini, ‘Ikrimah mengatakan: “Suatu kegelapan yang digiring apabila malam telah tiba dan segala sesuatu pergi ke tempatnya.”
Firman Allah: wal qamari idzat tasaq (“Dan dengan bulan apabila jadi purnama.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Jika telah berkumpul dan menempati posisi yang sama.” Demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah, Muhahid, dan Sa’id bin Jubair. Makna ungkapan mereka itu adalah jika cahaya itu sudah sempurna dan menjadi purnama menuju kepada malam dan apa yang diseretnya.
Firman Allah: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq (“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat [dalam kehidupan].”) Imam Bukhari meriwayatkan dari Muhahid, dia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq (“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat [dalam kehidupan].”) yaitu dari satu keadaan ke keadaan yang lain.” Dia mengatakan: “Inilah nabi kalian.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dengan lafazh tersebut. Dan hal itu mengandung kemungkinan bahwa Ibnu ‘Abbas menyandarkan penafsiran tersebut dari Nabi saw. seakan-akan dia berkata: “Aku pernah mendengar hal itu dari Nabi kalian.” Dengan demikian ucapannya: “Nabiyyukum [nabi kalian].” Dengan menggunakan harakat dlmammah dalam posisi sebagai fa’il (subyek) dari kata qaala, dan itulah yang lebih jelas. Wallahu a’lam.
Dan mungkin juga mengandung pengertian bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: Firman Allah: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq (“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat [dalam kehidupan].”) adalah suatu keadaan ke keadaan yang lain. Dia mengatakan: “Dan itulah yang dimaksud dengan ungkapan, “Inilah Nabi kalian saw.” sehingga berkedudukan marfu’ (menggunakan harakat dlammah), dengan pengertian bahwa kata Haadzaa dan Nabiyyukum berkedudukan sebagai mubatada’ dan khabar. wallaaHu a’lam.
Hal ini diperkuat oleh qira-at ‘Umar, Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas serta penduduk Makkah dan Kufah secara keseluruhan: litarkabanna, yaitu dengan menggunakan harakat fathah pada huruf ta dan ba.
Firman Allah: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq (“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat [dalam kehidupan].”) Ibnu ‘Abi Hatim meriwayatkan dari asy-Sya’bi, dia mengatakan: “Engkau akan naik, hai Muhammad, langit demi langit.” Demikian itu yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, Masruq, dan Abul ‘Aliyah; thabaqan ‘an thabaq; yang berarti langit demi langit.
Aku bertanya: “Apakah yang mereka maksudkan itu malam isra’ Mir’raj?” As-Suddi sendiri mengatakan: latarkabunna thabaqan ‘an thabaq (“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat.”) amal perbuatan orang-orang sebelum kalian, satu kedudukan kepada kedudukan yang lain, seolah-olah dia menghendaki pengertian haditst shahih: “Sesungguhnya kalian akan menjalankan sunnah-sunnah orang-orang sebelum kalian sedikit demi sedikit, bahkan meski mereka masuk ke liang biawak sekalipun pasti kalian akan memasukinya.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi atau Nasrani?” Beliau menjawab: “Kalau bukan mereka siapa lagi?” dan itu masih mengandung beberapa kemungkinan.
Firman Allah: fa maa laHum laa yu’minuun. Wa idzaa quri-a ‘alaiHimul qur-aanu laa yasjuduun (“Mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.”) maksudnya apa yang menghalangi mereka untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan hari akhir? Dan mengapa pula ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat dan firman-firman Allah, yang ia tidak lain adalah al-Qur’an ini, tidak mau bersujud untuk memberikan pengagungan dan penghormatan.
Firman Allah: baliladziina kafaruu yukadzdzibuun (“Bahkan orang-orang kafir itu mendustakan[nya].”) yakni di antara watak mereka adalah mendustakan, membangkang, dan menolak kebenaran. wallaaHu a’lamu bimaa yuu-‘uun (“Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan [dalam hati mereka].”) fabasysyirHum bi-‘adzaabin aliim (“Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan adzab yang pedih.”) yakni beritahukanlah hai Muhammad, kepada mereka bahwa Allah telah menyiapkan bagi mereka adzab yang sangat pedih.
Firman Allah: illalladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihati (“Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal shalih.”) yang demikian itu merupakan bentuk pengecualian terputus [istisna’ mungqathi’] artinya, tetapi orang-orang yang beriman, yaitu dengan sepenuh hatinya dan beramal shalih, yaitu dengan angggota tubuhnya, laHum ajrun (“bagi mereka pahala.”) yakni di alam akhirat, ghairu mamnuun (“yang tidak putus-putusnya.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni, tidak dikurangi.” Sedangkan Mujahid dan adl-dlahhak mengatakan: “Yaitu tidak terhitung.” Dan perpaduan antara kedua pendapat itu bahwa pahala itu tidak putus-putusnya.

Asbaz dan Tafsir SILAT Surat AL-Buruj

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Buruuj (Gugusan Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 85: 22 ayat
Firman Allah: innalladziina fatanul mu’miniina wal mu’minaati (“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.”) yakni dengan membakar mereka. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, dan Ibnu Abza. Tsumma lam yatuubu (“kemudian mereka tidak bertaubat.”) yakni tidak melepaskan diri dari apa yang telah mereka lakukan dan tidak pula menyesalinya. falaHum ‘adzaabu jaHannama wa laHum ‘adzaabul hariiq (“Maka bagi mereka adzab jahanam dan bagi mereka adzab (neraka) yang membakar.”) yang demikian itu karena balasan itu sesuai dengan amal perbuatan. Al-Hasan al-Bashri mengungkapkan: “Lihatlah pada kemurahan dan kedermawanan ini. Mereka telah membunuh para wali-Nya, tetapi Dia justru mengajak mereka untuk bertaubat dan memohon ampunan.”
“11. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Itulah keberuntungan yang besar. 12. Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. 13. Sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). 14. Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, 15. yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha mulia, 16. Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. 17. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, 18. (Yaitu kaum) Fir’aun dan (kaum) Tsamud? 19. Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, 20. Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. 21. bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, 22. yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (Al-Buruuj: 11-22)
Allah memberitahukan hamba-hamba-Nya yang beriman bahwa: laHum jannaatun tajrii min tahtiHal anHaaru (“Bagi mereka surge yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”) berbeda dengan apa yang disediakan bagi musuh-musuh-Nya yang berupa pembakaran dan neraka jahanam. Oleh karena itu, Dia berfirman: dzaalikal fauzul kabiir (“Itulah keberuntungan yang besar.”)
Kemudian Dia berfirman: inna bath-sya rabbika lasyadiid (“Sesungguhnya adzab RAbb-mu benar-benar keras.”) maksudnya, adzab dan siksa bagi musuh-musuh-Nya yang telah mendustakan para Rasul-Nya dan menyalahi perintah-Nya benar-benar sangat keras lagi dasyat dan kuat, karena sesungguhnya Allah mempunyai kekuatan yang sangat kuat, apa saja yang Dia kehendaki pasti akan terjadi sebagaimana yang Dia kehendaki dalam sekejap mata atau lebih cepat lagi. Oleh karena itu, Dia berfirman: innaHuu Huwa yubdi-u wa yu-‘iid (“Sesungguhnya Dia yang menciptakan [makhluk] dari permulaan dan menghidupkannya [kembali].”) yakni, dengan kekuatan dan kekuasaan-Nya yang sempurna Dia memulai penciptaan kemudian mengembalikannya lagi seperti sediakala tanpa ada yang menghalangi dan tidak juga mencegah. Wa Huwal gharuurul waduudu (“Dialah yang Mahapengampun lagi Mahapengasih.”) yakni mengampuni dosa orang yang bertaubat dan tunduk kepada-Nya, apapun dosanya. Sedangkan mengenai al-waduud, Ibnu ‘Abbas dan juga yang lainnya mengatakan: “Yaitu yang penuh cinta kasih.” Dzul ‘arsyi (“Yang mempunyai ‘Arsy”) yakni pemilik ‘Arsy yang agung lagi tinggi di atas semua makhluk. Sedangkan kata al-Majiid (Mahamulia), terdapat dua bacaan, yaitu dengan harakat dlammah dengan kedudukan sebagai sifat bagi rabb, dan yang kedua dengan menggunakan harakat kasrah dengan kedudukan sebagai sifat bagi ‘Arsy, namun demikian keduanya benar. Fa’-‘aalullimaa yuriid (“Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”) apapun yang hendak Dia lakukan pasti Dia lakukan, tidak ada yang menuntut balas terhadap hukum-Nya dan tidak juga ditanyakan mengenai apa yang diperbuat-Nya, karena keagungan, keperkasaan, kebijaksanaan, dan keadilan-Nya.
Firman-Nya: Hal ataaka hadiitsul junuudi fir’auna wa tsamuuda (“Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, [yaitu kaum] Fir’aun dan [kaum] Tsamud?”) artinya, apakah telah sampai kepadamu berita tentang adzab dan juga malapetaka yang telah menimpa mereka, yang tidak seorangpun sanggup mencegahnya? Yang demikian itu merupakan penegasan bagi firman Allah sebelumnya: inna bath-sya rabbika lasyadiid (“Sesungguhnya adzab RAbb-mu benar-benar keras.”) maksudnya, jika Dia menimpakan siksaan kepada orang dhalim, maka Dia akan mengadzabnya dengan adzab dari Rabb Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Firman-Nya: balilladziina kafaruu fii takdziib (“Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan.”) maksudnya mereka selalu dalam keraguan, kekufuran, dan pembangkangan. wallaaHu miw waraa-iHimmuhiith (“Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka.”) Yakni Dia berkuasa atas mereka, Mahaperkasa, tidak ada yang dapat lepas dari siksaan-Nya, serta tidak juga mereka dapat membuat-Nya lemah. Bal Huwa qur-aanum majiid (“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur’an yang mulia.”) yakni agung lagi mulia. Fii lauhim mahfuudh (“yang tersimpan di Lauhul Mahfudh.”) yakni al-mala-ul a’laa, terpelihara dari penambahan dan pengurangan, serta terjaga dari penyimpangan dan perubahan.

Asbaz SILAT Surat At-Thariq

“ Maka hendaklah manusia  memperhatikan  dari apakah dia diciptakan” (Ath-Thooriq:5)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abul Asad yang berdiri di atas kulit yang sudah disamak, sambil berkata dengan sombong: “Hai golongan Quraisy, barang siapa yang bisa memindahkan aku dari kulit ini, akan aku beri hadiah.” Selanjutnya ia berkata, “Muhammad menganggap bahwa pintu jahanam itu berjumlah Sembilan belas. Aku sendiri sanggup mewakili kalian mengalahkan yang sepuluh, dan kalian mengalahkan yang Sembilan lagi.” Ayat ini turun sebagai sindiran  terhadap perbuatan mereka.

Asbaz SILAT Surat Al-A'la

 Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa,
(al-A’laa: 6)

Diriwayatkan ole hath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Di dalam sanadnya terdapat Juwaibir, perawi yang sangat daif, bahwa apabila Jibril datang membawa wahyu kepada Nabi saw, beliau suka mengulang kembali wahyu itu sebelum Jibril selesai menyampaikannya, karena takut lupa lagi. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-A’laa: 6) sebagai jaminan bahwa Rasul tidak akan lupa pada wahyu yang telah diturunkan.

Asbaz SILAT Surat Al-Ghasyiyah

17. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan,
(al-Ghasyiyah: 17)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Qatadah bahwa ketika Allah melukiskan cirri-ciri syurga, kaum-kaum yang sesat merasa heran. Maka Allah menurunkan ayat ini  (al-Ghasyiyah: 17) sebagai perintah untuk memikirkan keluhuran dan keajaiban ciptaan Allah.

Asbaz SILAT Surat Al-Fajr

27. Hai jiwa yang tenang. (al-Fajr: 27)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Buradah bahwa firman Allah surat al Fajr: 27 turun berkenaan dengan Hamzah (yang gugur sebagai syahid)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Juwaibir, dari adl-Dlahak, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi saw bersabda: “Siapa yang akan membeli sumur Rumat untuk melepaskan dahaga. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosanya.” Sumur itupun dibeli oleh Utsman. Nabi saw bersabda: “Apakah engkau rela sumur itu dijadikan sumber minum bagi semua orang?” Utsman mengiyakannya. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Fajr: 27) berkenaan dengan Utsman.

Asbaz dan Tafsir SILAT Surat Al-Balad

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Balad (Negeri)
Surah Makkiyyah; Surah ke 90: 20 ayat

“1. aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah), 2. dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini, 3. dan demi bapak dan anaknya. 4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. 5. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya? 6. dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”. 7. Apakah Dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya? 8. Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, 9. lidah dan dua buah bibir. 10. dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (al-Balad: 1-10)
Yang demikian itu merupakan sumpah dari Allah dengan kota Makkah, Ummul Qura pada saat penghuni di sana dihalalkan, untuk mengingatkan akan keagungan dan kemuliaannya pada saat penduduknya berikhram. Dari Mujahid, Khushaif mengataka: “laa uqsimu biHaadzal baladi (“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini [Makkah].”) tidak ada penolakan atas mereka.  Aku bersumpah dengan negeri ini. Syabib bin Bisyir mengatakan dari ‘Ikrimah  dan Ibnu ‘Abbas: “laa uqsimu biHaadzal baladi (“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini [Makkah].”) yakni kota Makkah ini.” Dia berkata: “Hai Muhammad, diperbolehkan bagimu untuk berperang di dalamnya.” Demikian juga yang diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Abu Shalih, ‘Athiyah, adl-Dlahhak, Qatadah, as-Suddi, dan Ibnu Zaid.  Mujahid mengatakan: “Apa yang engkau dapatkan di dalamnya maka ia halal bagimu.” Al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Allah menghalalkannya  untuk beliau sesaat di waktu  siang hari.” Dan inilah makna yang mereka katakan. Dan hal itu juga telah  disebutkan oleh hadits yang keshahihannya telah disepakati:
“Sesungguhnya negeri ini telah diharamkan [disucikan] oleh Allah pada saat Dia menciptakan langit dan bumi. Dan negeri tersebut tetap dalam keadaan haram [suci] dengan keharamannya [kesuciaannya]  yang telah ditetapkan oleh Allah sampai hari kiamat kelak.  Pepohonannya tidak boleh ditebang, tanamannya yang masih hidup tidak boleh dicabut. Dan sesungguhnya pernah dihalalkan bagiku [berperang di sana] sesaat pada siang hari. Dan pada hari ini pengharamannya telah berlaku lagi, sebagaimana diharamkannya kemarin. Ketahuilah, hendaklah orang yang hadir hari ini menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.”
Dalam lafazh lain disebutkan: “Jika ada seseorang yang merasa diberi keringanan karena peperangan yang pernah dilakukan Rasulullah, maka  katakanlah: ‘Sesungguhnya Allah mengizinkan bagi Rasul-Nya dan tidak mengizinkan bagi kalian.’”
Firman Allah: wa waadidiw wa maa walada (“Dan demi bapak dan anaknya,”) Mujahid, Abu Shalih, Qatadah, adl-Dlahhak, Sufyan ats-Tsauri, Sa’id bin Jubair, as-Suddi, al-Hasan al-Bashri, Khushaif, Syarhabil bin Sa’ad dan lain-lainnya mengatakan: “Yang dimaksud dengan bapak di sini adalah Adam sedang anaknya adalah anak Adam.” Dan apa yang menjadi pendapat Mujahid dan para shahabatnya inilah yang paling kuat, karena Allah Ta’ala bersumpah dengan Ummul Qura, yaitu tempat-tempat yang didiami. Dia bersumpah dengan orang yang mendiaminya, yaitu Adam, bapak ummat manusia dan semua anaknya. Ibnu Jarir memilih berpendapat bahwa hal itu bersifat umum yang mencakup  setiap orang tua dan anaknya. Dan pendapat inipun mengandung kemungkinan.
Firman Allah: laqad khalaqnal ingsaana fii kabadin (“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada di dalam susah payah.”) Sa’id bin Jubair berkata tentang “fii kabad”: yakni dalam kesusahan dan pencarian kehidupan.” Ibnu Jarir memilih berpendat bahwa yang dimaksud adalah berbagai urusan yang sulit lagi payah.
Firman-Nya: a yahsabu allay yaqdira ‘alaiHi ahad (“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-sekali tidak ada seorangpun yang berkuasa atasnya?”) al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Yakni mengambil hartanya.” Mengenai firman-Nya ini Qatadah mengatakan: “Anak Adam mengira bahwa mereka tidak akan ditanya tentang harta tersebut, darimana dia memperolehnya dan kemana dia menyalurkannya.” Mengenai firmannya ini as-Suddi mengatakan: “Allah berfirman.”
Firman-Nya: yaquulu aHlaktu maalan (“Dia mengatakan: ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak.’”) artinya anak Adam mengatakan: “Aku telah membelanjakan harta yang cukup banyak.”) demikian yang dikemukakan oleh Muhahid, al-Hasan, Qatadah, as-Suddi dan lain-lain. A yahsabu allam yaraHuu ahad (“Apakah dia menyangka bahwa  tidak ada seorangpun yang melihatnya.” Mujahid mengatakan: “Yakni, apakah  dia mengira Allah tidak melihatnya?” demikian juga perkataan ulama salaf lainnya.

Firman-Nya: a lam naj’al laHuu ‘ainaiin (“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.”) yakni melihat dengan keduanya. Wa lisaanan (“Dan lidah”) yakni dengannya dia bicara  sehingga ia dapat mengungkapkan apa yang ada di dalam hati kecilnya. Wa syafataiin (“Dan dua buah bibir.”) dengan kedua bibir itu dia meminta bantuan untuk dapat berbicara, memakan makanan, sekaligus untuk memperindah wajah dan mulutnya. Wa HadainaaHun najdaiin (“Dan Kami telah  menunjukkan kepadanya dua jalan”) yakni dua jalan. Sufyan ats-Tsauri  berkata dari ‘Abdullah, yakni bin Mas’ud tentang ayat ini dia mengatakan: “Kebaikan dan keburukan.” Demikian yang diriwayatkan oleh ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Abu  Wa-il, Abu Shalih, Muhammad bin Ka’ab, adl-Dlahhak, ‘Atha’ al-Khurasani. Dan perbandingan ayat ini adalah firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat.  Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (al-Insaan: 2-3)