Sabtu, 13 Juni 2015

Asbaz SILAT Surat Ad-Dhuha

2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),
3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu*.
4. dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)**.
5. dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.
(adl-Dluhaa 1-5)
*  Maksudnya: ketika turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad s.a.w. terhenti untuk Sementara waktu, orang-orang musyrik berkata: “Tuhannya (Muhammad) telah meninggalkannya dan benci kepadaNya”. Maka turunlah ayat ini untuk membantah Perkataan orang-orang musyrik itu.
** Maksudnya ialah bahwa akhir perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan, sedang permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. ada pula sebagian ahli tafsir yang mengartikan akhirat dengan kehidupan akhirat beserta segala kesenangannya dan ula dengan arti kehidupan dunia.
Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dan lain-lain yang bersumber dari Jundub  bahwa Rasulullah saw merasa kurang enak badan sehingga beliau tidak shalat malam selama satu atau dua malam. Seorang wanita datang kepada beliau seraya berkata, “Hai Muhammad, aku melihat setanmu (yang ia maksud adalah malaikat Jibril) telah meninggalkan engkau.” Maka Allah menurunkan ayat ini (1-3) yang menegaskan bahwa Allah tidak membiarkan Muhammad dan tidak membencinya.
Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dan al-Faryabi, yang bersumber dari Jundub bahwa Jibril untuk beberapa lama tidak datang kepada Nabi saw. Berkatalah kaum musyrikin: “Muhammad telah ditinggalkan.” Maka turunlah ayat-ayat ini (adh-Dhuhaa 1-3) yang membantah ucapan mereka.
Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Zaid bin Arqam bahwa berhari-hari Rasulullah saw tidak didatangi Jibril. Berkatalah ummu Jamil, istri Abu Lahab: “Aku berkesimpulan bahwa sahabatmu (Jibril) telah meninggalkan engkau dan marah kepadamu.” Maka turunlah ayat-ayat ini (1-3) yang membantah anggapan ummu Jamil ini.
Diriwayatkan oleh ath-Thabrani, Ibnu Abi Syaibah di dalam Musnadnya, al-Wahidi, dan lain-lain, dengan sanad yang diantaranya ada perawi yang tidak dikenal, dari Hafsh bin Maisarah al-Quraisy, dari ibunya, yang bersumber dari ibunya, yaitu Khaulah (nenek Hafsh), bahwa seekor anak anjing masuk ke rumah Rasulullah saw dan tinggal di bawah ranjang beliau hingga mati. Ketika itu selama empat hari, Rasulullah saw tidak menerima wahyu. Rasulullah saw bersabda: “Hai Khaulah, ada apa di rumahku ini sehingga Jibril tidak datang kepadaku?” Khaulah berkata: “Ketika aku membersihkanrumah dan menyapunya, dari bawah ranjang seekor anak anjing yang sudah mati tersapu olehku, kemudian aku mengeluarkannya.” Ketika itu aku melihat Rasulullah saw gemetar kedinginan padahal beliau mengenakan jubah-sebagaimana biasanya beliau suka gemetar manakala turun wahyu”. Pada waktu itulah turun ayat-ayat ini (adh-Dhuha 1-5)
Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, kisah lambatnya Jibril turun yang disebabkan anak anjing itu masyhur. Akan tetapi sangatlah gharib bila dijadikan sebagai sebab turunnya ayat itu, bahkan ganjil dan terbantahlah oleh riwayat yang termaktub di dalam kitab Shahihul Bukhari.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Abdulallah bin Syaddad bahwa Khadijah berkata: “Barangkali Rabbmu marah kepadamu.” Ayat-ayat ini (1-5) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Urwah bahwa Jibril lama tidak datang kepada Nabi saw sehingga beliau merasa sangat  cemas. Khadijah berkata: “Bila melihat kecemasanmu, aku kira Rabbmu benar-benar marah kepadamu.” Ayat adh-Dhuha 1-3 turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.
Kedua riwayat Ibnu Jarir di atas mursal, akan tetapi rawi-rawinya tsiqat (kuat). Al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa kedua riwayat itu (riwayat al-Hakim dan Ibnu Jarir) jelas, yaitu dari Ummu Jamil untuk menyatakan dendam kesumatnya, dan Khadijah ungkapan turut bersedih dan cemas.
Diriwayatkan oleh al-Hakim, al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, ath-Thabarani, dll, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa dijanjikan kepada Nabi saw kemenangan bagi umatnya, sehingga beliau pun merasa gembira karenanya. Ayat ini adh-Dhuha ayat 5 turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan ole hath-Thabarani di dalam kitab al-Ausath, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, isnad hadits ini hasan, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Diperlihatkan kepadaku kemenangan-kemenangan yang akan diperoleh umatku sesudah aku (meninggal), sehingga aku pun merasa sangat gembira.” Maka turunlah ayat ini (adh-Dhuhaa: 4) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Asbaz SILAT Surat AL-Insyirah

1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,
2. dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
3. yang memberatkan punggungmu*?
4. dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu**,
5. karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain*,
8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
(al-Insyiroh 1-8)
*       Yang dimaksud dengan beban di sini ialah kesusahan-kesusahan yang diderita Nabi Muhammad s.a.w. dalam menyampaikan risalah.
**  Meninggikan nama Nabi Muhammad s.a.w di sini Maksudnya ialah meninggikan derajat dan mengikutkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, menjadikan taat kepada Nabi Termasuk taat kepada Allah dan lain-lain.
**    Maksudnya: sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berdakwah Maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia Maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: apabila telah selesai mengerjakan shalat berdoalah.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari al-Hasan bahwa ketika ayat ini (al-Insyiroh;6) turun, Rasulullah saw bersabda: “Bergembiralah kalian, karena akan datang kemudahan bagi kalian. Satu kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.

Asbaz SILAT Surat At-Tiin

5. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
(At-Tiin 5-6)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa firman Allah at-Tiin ayat 5 “kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya” mengandung arti dikembalikan ke tingkat pikun (seperti bayi lagi). Sehubungan dengan hal ini, Rasulullah saw pernah ditanya tentang kedudukan orang-orang pikun. Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (at-Tiin ayat 6), yang menegaskan bahwa mereka yang beriman dan beramal sholeh sebelum pikun, akan mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.

Asbaz SILAT Surat Al-'Alaq

6. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
7. karena Dia melihat dirinya serba cukup.
8. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).
9. bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,
10. seorang hamba ketika mengerjakan shalat*,
11. bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,
12. atau Dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?
13. bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?
14. tidaklah Dia mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?
15. ketahuilah, sungguh jika Dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya**,
16. (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
17. Maka Biarlah Dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),
18. kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah***,
19. sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).
*   Yang dimaksud dengan orang yang hendak melarang itu ialah Abu Jahal, yang dilarang itu ialah Rasulullah sendiri. akan tetapi usaha ini tidak berhasil karena Abu Jahal melihat sesuatu yang menakutkannya. setelah Rasulullah selesai shalat disampaikan orang berita itu kepada Rasulullah. kemudian Rasulullah mengatakan: “Kalau jadilah Abu Jahal berbuat demikian pasti Dia akan dibinasakan oleh Malaikat”.
**  Maksudnya: memasukkannya ke dalam neraka dengan menarik kepalanya.
***Malaikat Zabaniyah ialah Malaikat yang menyiksa orang-orang yang berdosa di dalam neraka.
Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Abu Jahal pernah berkata, “Apakah Muhammad meletakkan mukanya ke tanah (sujud) di hadapan kamu ?” ketika itu orang membenarkannya. Selanjutnya Abu Jahal berkata: “Demi al-Lata dan al-‘Uzza, sekiranya aku melihat dia sedang berbuat demikian, akan aku injak batang lehernya dan kubenamkan mukanya ke dalam tanah.” Ayat-ayat ini (6-19) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Rasulullah saw sedang shalat, datanglah Abu Jahal melarang beliau melakukannya. Ayat-ayat 6-19 ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut sebagai ancaman kepada orang yang menghalang-halangi orang yang hendak beribadah.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, menurut at-Tirmidzi hadits ini hasan shahih, bahwa ketika Rasulullah saw sedang shalat, datanglah Abu Jahal seraya berkata: “Bukankah aku sudah melarang engkau berbuat demikian (shalat) ?” Nabi Muhammad saw pun membentaknya. Abu Jahal berkata: “Bukankah engkau tau bahwa di sini tidak ada orang yang lebih banyak pengikutnya daripada aku ?” maka Allah menurunkan ayat-ayat ini (al-‘Alaq 17-19) sebagai ancaman kepada orang yang menghalang-halangi orang yang hendak melakukan ibadah dan merasa banyak pengikut.

Asbaz SILAT Surat Al-Qadr

1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan*.
2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?
3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.
* Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr Yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran.
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim, dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari al-Hasan bin ‘Ali bahwa Nabi Muhammad saw bermimpi melihat bani Umayyah menduduki dan menguasai mimbarnya setelah beliau wafat. Beliau merasa tidak senang karenanya. Maka turunlah surat al-Kautsar ayat 1 (Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak) dan surat al-Qadr ayat 1-5 untuk membesarkan hati beliau.
Al-Qasim al-Hirani menyatakan bahwa kerajaan bani Umayyah itu ternyata berlangsung selama tidak lebih dan tidak kurang dari seribu bulan. Menurut at-Tirmidzi, riwayat ini gharib, sedang al-Muzani dan Ibnu Katsir menyebutnya sangat munkar.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Wahidi, yang bersumber dari Mujahid bahwa Rasulullah saw pernah menyebut-nyebut bani Israel yang berjuang fiisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum Muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan surat al-Qadr 1-3 yang menegaskan bahwa satu malam laitatul qadr lebih baik daripada perjuangan bani Israel selama seribu bulan itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid bahwa di kalangan bani Israel terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Qadr 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal seribu bulan yang dilakukan seorang laki-laki dari bani Israel tersebut.

Asbaz dan Tafsir SILAT Surat Al-Bayyinah

Tafsir Ibnu Katsir  Surah Al-Bayyinah (Bukti)
Surat Madaniyyah, Surat ke 98: 8 ayat

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata: “Rasulullah saw. Bersabda kepada Ubay bin Ka’ab: “Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan kepadamu, “lam yakunilladziina kafaruu min aHlil kitaabi”. Ubay bertanya: ‘Dia menyebut namaku kepdamu?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’ Maka Ubay pun menangis.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i.
“1. orang-orang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, 2. (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran), 3. di dalamnya terdapat (isi) Kitab-Kitab yang lurus. 4. dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. 5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”(al-Bayyinah: 1-5)
Ahli kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan yang dimaksud dengan orang-orang musyrik adalah para penyembah berhala dan api, baik dari masyarakat Arab maupun non Arab. Mujahid mengatakan bahwa mereka “mungfakkiina” (“tidak akan meninggalkan”) artinya, mereka tidak akan berhenti sehingga kebenaran tampak jelas di hadapan mereka. Demikian itu pula yang dikemukakan oleh Qatadah.
Hattaa ta’tiyaHumul bayyinaH (“Sehingga dating kepada mereka bukti yang nyata.”) yaitu al-Qur’an ini. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: lam yakunilladziina kafaruu min aHlil kitaabi wal musyrikiina mungfakkiina hatta ta’tiyaHumul bayyinaH (“Orang-orang kafir, yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik [mengatakan bahwa mereka] tidak akan meninggalkan [agamanya] sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata”) kemudian Allah Ta’ala menafsirkan bukti tersebut melalui firman-Nya: rasuulum minallaaHi yatluu shuhufam muthaHHaraH (“Yaitu seorang Rasul dari Allah yang membacakan lembaran yang disucikan [al-Qur’an].”) yakni Muhammad saw. Dan al-Qur’an al-Adziim yang beliau bacakan, yang sudah tertulis di Mala-ul A’la di dalam lembaran-lembaran yang disucikan.
Dan firman Allah Ta’ala: fiHaa kutubung qayyimaH (“Di dalamnya terdapat [isi] Kitab-kitab yang lurus.”) Ibnu Jarir mengatakan: “Yakni di dalam lembaran-lembaran yang disucikan itu terdapat kandungan Kitab-kitab dari Allah yang sangat tegak, adil, dan lurus, tanpa adanya kesalahan sedikitpun, karena ia berasal dari Allah.
Wa maa tafarraqal ladziina uutul kitaaba illaa mim ba’di maa jaa-atHumul bayyinaH (“Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab [kepada mereka] melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.”) yang demikian itu  seperti firman Allah yang lainnya: wa laa takuunuu kalladziina tafarraquu mim ba’di maa jaa-aHumul bayyinaatu wa ulaa-ika laHum ‘adzaabun ‘adziim  (“Dan janganlah kamu  menyerupai  orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang  keterangan yang jelas  kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali ‘Imraan: 105). Yang dimaksud dengan hal tersebut adalah orang-orang yang menerima  kitab-kitab yang diturunkan kepada umat-umat sebelum kita, dimana setelah Allah memberikan hujjah  dan bukti kepada mereka, mereka malah berpecah-belah dan berselisih mengenai apa yang dikehendaki Allah dari kitab-kitab mereka. Mereka mengalami banyak perselisihan.
Wa maa umiruu illaa liya’budullaaHa mukhlishiina laHuddiina (“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan  kepada-Nya dalam [menjalankan] agama.”) hunafaa-a (“Yang lurus”) yakni yang melepaskan kemusyrikan menuju pada tauhid. Dan pembahasan tentang kata hanif ini telah diberikan sebelumnya  dalam surat al-An’am. Wa yuqiimuunash shalaaH (“Dan supaya mereka mendirikan shalat.”) yang merupakan ibadah jasmani yang paling mulia. Wa yu’tuzzakaa (“Dan menunaikan zakat.”) yaitu berbuat baik kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Wa dzaalika diinul qayyimah (“Dan yang demikian itulah  agama yang lurus.”) yakni agama yang berdiri tegak lagi adil, atau umat yang lurus dan tidak menyimpang. Dan banyak imam, seperti az-Zuhri dan asy-Syafi’i yang menggunakan ayat mulia ini sebagai dalil bahwa amal perbuatan itu termasuk dalam keimanan.
“6. Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. 7. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk. 8. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (al-Bayyinah: 6-8)
Allah Ta’ala mengabarkan tentang tempat kembali orang-orang jahad dari orang-orang kafir Ahul Kitab dan juga orang-orang musyrik yang menolak kitab-kitab Allah yang diturunkan serta menentang Nabi-nabi Allah yang diutus, bahwa pada hari kiamat kelak tempat mereka adalah neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya, yakni tidak akan pindah dari neraka itu untuk selamanya. Ulaa-ika Hum syarrul bariyyah (“Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.”) yakni seburuk-buruk makhluk yang diciptakan dan diadakan oleh Allah. Kemudian Allah Ta’ala menceritakan tentang keadaan orang-orang yang berbuat baik, yaitu yang beriman dengan sepenuh hati dan mengerjakan amal shalih dengan badan mereka bahwa mereka adalah sebaik-baik makhluk. Abu Hurairah dan sejumlah ulama telah menjadikan ayat ini sebagai dalil  pengutamaan orang-orang mukmin atas para malaikat.  Hal ini didasarkan pada firman-Nya: ulaa-ika khairul bariyyah (“Mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.”) kemudian Allah Ta’ala berfirman: jaza-uHum ‘inda rabbiHim (“Balasan mereka di sisi Rabb mereka.”) yakni pada hari kiamat kelak: jannaatu ‘adning tajrii min tahtiHal anHaaru khaalidiina fiiHaa abadan (“Adalah surga ‘Adn yang mengalir di bahwahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”) yakni tidak akan pernah terputus dan tidak juga berakhir. radliyallaaHu ‘anHum wa radluu’anHu (“Allah ridla terhadap mereka dan merekapun ridla kepada-Nya.”) dan posisi keridlaan-Nya atas mereka lebih tinggi daripada berbagai kenikmatan yang diberikan kepada mereka. Wa radluu ‘anHu (“Dan merekapun ridla kepada-Nya.”) dari apa yang telah Dia berikan kepada mereka berupa anugerah yang sangat luas.

Dzaalika liman khasyiya rabbaH (“Yang demikian itu adalah [balasan] bagi orang yang takut kepada Rabb-nya.”) yakni balasan ini akan diberikan kepada orang-orang yang takut dan bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa serta beribadah kepada-Nya seakan-akan dia melihat-Nya, dian Dia juga mengetahui kalau memang dia tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatnya.

admin sangat jauh dari kesempurnaan. mohon koreksi dan masukannya..

klik pelajaran "tajwid" dan "fiqih"

Asbaz SILAT Surat Al-Zalzalah

7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
8. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.
 (al-Zalzalah: 7-8)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa ketika turun ayat 8 al-Insan (dan mereka member makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan), kaum Muslimin menganggap bahwa orang yang bersedekah sedikit  tidak akan memperoleh pahala; orang yang berbuat dosa kecil, seperti berbohong, mengumpat, mencuri penglihatan, dan sebagainya tidak bercela; serta menganggap bahwa ancaman neraka dari Allah hanya disediakan bagi orang-orang yang berbuat dosa besar. Maka turunlah ayat az-Zalzalah 7-8 sebagai bantahan terhadap anggapan mereka itu.

admin sangat jauh dari kesempurnaan. mohon koreksi dan masukannya..

klik pelajaran "tajwid" dan "fiqih"